Jumat, 16 Desember 2016

aliran-aliran filosofi pendidikan



Aliran-Aliran Filosofis Pendidikan

Dalam landasan filosofis pendidikan juga terdapat berbagai aliran pemikiran. Hal ini muncul sebagai implikasi dari aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat. Menurut Gandhi,T.W (2011) ada sembilan jenis aliran filosofis pendidikan :
a.      Filsafat Pendidikan Idealisme
Ornstein (2011:170) menyatakan bahwa idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Idealisme memandang realitas sebagai hal yang ada dalam kehidupan alam bukanlah suatu kebenaran yang hakiki, melainkan hanya sebatas gambaran dari ide-ide yang ada didalam jiwa manusia. Idealisme merupakan aliran filsafat yang berpendapat bahwa objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea) bahwa ide-ide ada sebelum keberadaan sesuatu yang lain, bahwa ide-ide merupakan dasar dari keadaan sesuatu. Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal atau jiwa dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme juga mengatakan bahwa akal itulah yang riil.
b.      Filsafat Pendidikan Realisme.
Realisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa dunia materi diluar kesadaran ada sebagai suatu yang nyata dan penting untuk dikenal dengan mempergunakan kemampuan intelektual yang dimiliki manusia.Menurut realisme hakikat kebenaran itu barada pada kenyataan alam ini, bukan pada ide atau jiwa.
Dalam arti filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indra kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita.
Menurut realis alam itu hal utama, dan satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengan alam. Kelompok realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkan berdasarkan keinginan atau kepercayaan yang belum diuji kebenarannya. Realisme adalah aliran yang menyatakan bahwa objek – objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri. Objek – objek tersebut tidak bergantung pada pikiran. Pikiran dan lingkungan sekitar saling berinteraksi (Tim dosen filsafat UGM, 2003:39).
c.       Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pada dasarnya, pragmatisme merupakan suatu sikap hidup, suatu metode dan suatu filsafat yang digunakan dalam mempertimbangkan nilai sesuatu ide dan kebenaran sesuatu keyakinan secara praktis. Esensi diri pragmatisme ini terletak pada metodenya yang sangat empiris dimana sangat menekankan pada metode dan sikap lebih dari suatu doktrin filsafat yang sistematis dan menggunakan metode ilmu pengetahuan modern sebagai dasar dari suatu filsafat.
Tekanan utama pragmatisme dalam pendidikan selalu dilandaskan bahwa subjek didik bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Setiap subjek didik tidak lain adalah individu yang mengalami sehingga mereka berkembang, serta memiliki inisiatif dalam mengatasi problem-problem hidup yang mereka miliki.
Dalam pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar subjek didik saat belajar disekolah tak berbeda ketika ia berada diluar seolah. Oleh karenanya, kehidupan disekolah selalu disadari sebagai bagian dari pengalama  hidup, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup.
Dalam pendidikan pragmatisme guru menjadi pendamping subjek didik yang dipandang jauh lebih memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai problem. Ia menjadi pengarah atau pemandu aktivitas-aktivitas subjek didik diluar hal-hal yang dibutuhkan mereka, dengan pertimbangan-pertimbangan dan pengalaman yang lebih luas.
d.      Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Pendidikan menurut pandangan eksistensialisme diarahkan untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Pendidikan eksistensialis berusaha meberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan.
Disini anak didik didasari sebagai makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atau pilihan suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pendidikan. Kurikulum eksistensialis cenderung bersifat liberal, membawa manusa pada kebebasan manusia.
e.       Filsafat Pendidikan Progresivisme
Teori pendidikan progresivisme secara umum dipengaruhi filsafat pragmatisme, khususnya pemikiran yang dilahirkan John Deway. Itulah ciri khas teori pendidikan ini. Ia tidak pernah menjadi sistem pemikiran yang sistematis dan konsisten, tetapi lebih banyak terpusat pada eksperimentasi yang berdasarkan investigasi ilmiah sains modern. Hal ini sangat identik dengan pemikiran filsafat Dewey yang memandang betapa pengalaman selalu menjadi hal pokok dan utama.
f.       Filsafat Pendidikan Esensialisme.
Pada aliran esensialisme sangat terlihat pijakan mereka pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, terbuka pada perubahan, toleren dan tidak ada terkait dengan doktrin terntentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Menurut penganut esensialisme, tugas pendidikan tidak lain adalah mengajarkan pengatuhuan dasar dan keterampilan-keterampilan dasar yang berkaitan dengan pemerolehan materi dalam hidup. Dalam prakteknya, para esensialisme cenderung menekankan sesuatu yang dikenal 3R ; mulai reaading, writing, dan arithematic (membaca, menulis dan berhitung). Tiga hal ini dipandang sebagai pengetahuan dasar yang begitu ditekankan dalam esensialisme.
Peran guru dikalangan esensialis sangat berbeda dengan kalangan progresif yang sama sekali tidak otoritatif bahkan hanya menjadi fasilitator, sebaliknya berupaya untuk kembali menjadi otoritatif. Oleh karena itu, sikap yang ditanamkan adalah menanamkan rasa hormat terhadap otoritas, ketekunan, tugas, pertimbangan, kepraktisan.
Esensialisme berupaya untuk mengajarkan siswa dengan berbagai pengetahuan sejarah melalui mata kuliah inti dalam disiplin akademis tradisional. Esensialisme juga bermaksud menanmkan pengetahuan akademis, patriotisme, dan pengambangan karakter.
g.      Filsafat Pendidikan Perenilisme
Istilah perenialisme berasal dari bahasa latin, yaitu dari akar kata perenis atau perenial (bahasa inggris) yang berarti tumbuh terus melalui waktu ke waktu atau abadi. Maka, pandangan selalu mempercayai mengenai adanya nilai-nilai, norma-norma yang bersifat abadi dalam kehidupan ini. Atas dasar itu, perenialis memandang pola perkembangan kebudayaan sepanjang zaman adalah sebagai pengulangan dari apa yang ada sebelumnya sehingga perenialisme sering disebut sebagai istilah tradisionalisme.
Menurut pandangan perenialisme tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik menyiapkan dan menginternalisasikan nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebaikan dalam hidup. Sekolah pada dasarnya adalah sebuah tatanan artifisial, yaitu tempat intelek-intelek yang belum matang berkenalan dengan capaian-capain terbesar manusia.
Metode pendidikan yang digunakan oleh perenialis adalah membaca dan mendiskusikan karya-karya yang tertuan dalam the Great book dalam rangka mendisiplinkan pikiran. Peranan guru bukan sebagai perantara anatar duni dan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar.
h.      Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme berasal dari kata reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme adalah aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tat susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.
Pada prinsipnya rekonstruksionisme sepaham dengan aliran perenialisme, khususnya keprihatinan mereka pada kehidupan manusia modern. Kedua aliran tersebut memandang jika kehidupan manusia modern adalah zaman ketika manusia hidup dalam kebudayaan yang tergangu, sakit, penuh kebingunagn , serta kesimpangsiuran proses.
Menurut pandangan rekonstruksionalisme pendidikan perlu merombak tata susunan lama dana menyusun tata kehidupan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerja sama antar umat manusia.
i.        Filsafat Pendidikan Behaviorisme
Behaviorisme atau aliran perilaku adalah filosofis dalam psikologi yang berdasarkan pada proposisi bahwa semua dilakukan organisme, termasuk tindakan, pikiran, perasaan, dapat dan harus dianggap sebagai perilaku.
Tujuan pendidikan menurut teori bahavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, yang menuntut pemelajar untuk mengungkapkan kemabli pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumalasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar