Aliran-Aliran Filosofis
Pendidikan
Dalam landasan filosofis pendidikan juga terdapat berbagai aliran
pemikiran. Hal ini muncul sebagai implikasi dari aliran-aliran yang terdapat
dalam filsafat. Menurut Gandhi,T.W (2011) ada sembilan jenis aliran
filosofis pendidikan :
a. Filsafat Pendidikan Idealisme
Ornstein (2011:170) menyatakan bahwa
idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
Idealisme memandang realitas sebagai hal yang ada dalam kehidupan alam bukanlah
suatu kebenaran yang hakiki, melainkan hanya sebatas gambaran dari ide-ide yang
ada didalam jiwa manusia. Idealisme merupakan aliran filsafat yang berpendapat
bahwa objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea) bahwa ide-ide ada
sebelum keberadaan sesuatu yang lain, bahwa ide-ide merupakan dasar dari
keadaan sesuatu. Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide,
pikiran-pikiran, akal atau jiwa dan bukan benda material dan kekuatan.
Idealisme juga mengatakan bahwa akal itulah yang riil.
b. Filsafat Pendidikan Realisme.
Realisme adalah aliran filsafat yang
memandang bahwa dunia materi diluar kesadaran ada sebagai suatu yang nyata dan
penting untuk dikenal dengan mempergunakan kemampuan intelektual yang dimiliki
manusia.Menurut realisme hakikat kebenaran itu barada pada kenyataan alam ini,
bukan pada ide atau jiwa.
Dalam arti
filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indra kita adalah
real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita
ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita.
Menurut
realis alam itu hal
utama, dan satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan
yang baik dengan alam. Kelompok realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan
untuk menafsirkan berdasarkan keinginan atau kepercayaan yang belum diuji
kebenarannya. Realisme adalah aliran yang menyatakan bahwa objek – objek yang
diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri. Objek – objek tersebut tidak
bergantung pada pikiran. Pikiran dan lingkungan sekitar saling berinteraksi
(Tim dosen filsafat UGM, 2003:39).
c. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pada dasarnya, pragmatisme merupakan suatu sikap hidup, suatu metode dan
suatu filsafat yang digunakan dalam mempertimbangkan nilai sesuatu ide dan kebenaran
sesuatu keyakinan secara praktis. Esensi diri pragmatisme ini terletak pada
metodenya yang sangat empiris dimana sangat menekankan pada metode dan sikap
lebih dari suatu doktrin filsafat yang sistematis dan menggunakan metode ilmu
pengetahuan modern sebagai dasar dari suatu filsafat.
Tekanan utama pragmatisme dalam pendidikan selalu dilandaskan bahwa subjek
didik bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Setiap subjek
didik tidak lain adalah individu yang mengalami sehingga mereka berkembang,
serta memiliki inisiatif dalam mengatasi problem-problem hidup yang mereka
miliki.
Dalam pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar subjek didik
saat belajar disekolah tak berbeda ketika ia berada diluar seolah. Oleh
karenanya, kehidupan disekolah selalu disadari sebagai bagian dari
pengalama hidup, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup.
Dalam pendidikan pragmatisme guru menjadi pendamping subjek didik yang
dipandang jauh lebih memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai problem. Ia
menjadi pengarah atau pemandu aktivitas-aktivitas subjek didik diluar hal-hal
yang dibutuhkan mereka, dengan pertimbangan-pertimbangan dan pengalaman yang
lebih luas.
d. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Pendidikan menurut pandangan eksistensialisme
diarahkan untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua
potensinya untuk pemenuhan diri. Pendidikan eksistensialis berusaha meberikan
bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan.
Disini anak didik didasari sebagai makhluk
rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atau pilihan suatu komitmen
terhadap pemenuhan tujuan pendidikan. Kurikulum eksistensialis cenderung
bersifat liberal, membawa manusa pada kebebasan manusia.
e. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Teori pendidikan progresivisme secara umum
dipengaruhi filsafat pragmatisme, khususnya pemikiran yang dilahirkan John
Deway. Itulah ciri khas teori pendidikan ini. Ia tidak pernah menjadi sistem
pemikiran yang sistematis dan konsisten, tetapi lebih banyak terpusat pada
eksperimentasi yang berdasarkan investigasi ilmiah sains modern. Hal ini sangat
identik dengan pemikiran filsafat Dewey yang memandang betapa pengalaman selalu
menjadi hal pokok dan utama.
f. Filsafat Pendidikan Esensialisme.
Pada aliran esensialisme sangat terlihat pijakan
mereka pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, terbuka pada perubahan,
toleren dan tidak ada terkait dengan doktrin terntentu. Esensialisme memandang
bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan
tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai
tata yang jelas.
Menurut penganut esensialisme, tugas pendidikan
tidak lain adalah mengajarkan pengatuhuan dasar dan keterampilan-keterampilan
dasar yang berkaitan dengan pemerolehan materi dalam hidup. Dalam prakteknya,
para esensialisme cenderung menekankan sesuatu yang dikenal 3R ; mulai
reaading, writing, dan arithematic (membaca, menulis dan berhitung). Tiga hal
ini dipandang sebagai pengetahuan dasar yang begitu ditekankan dalam
esensialisme.
Peran guru dikalangan esensialis sangat berbeda
dengan kalangan progresif yang sama sekali tidak otoritatif bahkan hanya
menjadi fasilitator, sebaliknya berupaya untuk kembali menjadi otoritatif. Oleh
karena itu, sikap yang ditanamkan adalah menanamkan rasa hormat terhadap
otoritas, ketekunan, tugas, pertimbangan, kepraktisan.
Esensialisme berupaya untuk mengajarkan siswa
dengan berbagai pengetahuan sejarah melalui mata kuliah inti dalam disiplin
akademis tradisional. Esensialisme juga bermaksud menanmkan pengetahuan
akademis, patriotisme, dan pengambangan karakter.
g. Filsafat Pendidikan Perenilisme
Istilah perenialisme berasal dari bahasa latin,
yaitu dari akar kata perenis atau perenial (bahasa inggris) yang berarti tumbuh
terus melalui waktu ke waktu atau abadi. Maka, pandangan selalu mempercayai
mengenai adanya nilai-nilai, norma-norma yang bersifat abadi dalam kehidupan
ini. Atas dasar itu, perenialis memandang pola perkembangan kebudayaan
sepanjang zaman adalah sebagai pengulangan dari apa yang ada sebelumnya
sehingga perenialisme sering disebut sebagai istilah tradisionalisme.
Menurut pandangan perenialisme tujuan pendidikan
adalah membantu peserta didik menyiapkan dan menginternalisasikan nilai-nilai
kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebaikan dalam hidup. Sekolah
pada dasarnya adalah sebuah tatanan artifisial, yaitu tempat intelek-intelek
yang belum matang berkenalan dengan capaian-capain terbesar manusia.
Metode pendidikan yang digunakan oleh perenialis
adalah membaca dan mendiskusikan karya-karya yang tertuan dalam the Great book
dalam rangka mendisiplinkan pikiran. Peranan guru bukan sebagai perantara
anatar duni dan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami
proses belajar sementara mengajar.
h. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme berasal dari kata reconstruct
yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan aliran
rekonstruksionisme adalah aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan
membangun tat susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.
Pada prinsipnya rekonstruksionisme sepaham dengan
aliran perenialisme, khususnya keprihatinan mereka pada kehidupan manusia
modern. Kedua aliran tersebut memandang jika kehidupan manusia modern adalah
zaman ketika manusia hidup dalam kebudayaan yang tergangu, sakit, penuh
kebingunagn , serta kesimpangsiuran proses.
Menurut pandangan rekonstruksionalisme pendidikan
perlu merombak tata susunan lama dana menyusun tata kehidupan yang baru, untuk
mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerja sama antar umat manusia.
i. Filsafat Pendidikan Behaviorisme
Behaviorisme atau aliran perilaku adalah
filosofis dalam psikologi yang berdasarkan pada proposisi bahwa semua dilakukan
organisme, termasuk tindakan, pikiran, perasaan, dapat dan harus dianggap
sebagai perilaku.
Tujuan pendidikan menurut teori bahavioristik
ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas
mimetic, yang menuntut pemelajar untuk mengungkapkan kemabli pengetahuan yang
sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau
materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumalasi
fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar