PRINSIP BELAJAR
Prinsip Belajar adalah
suatu hubungan yang terjadi antara peserta didik dengan pendidik agar siswa
mendapat motivasi belajar yang berguna bagi dirinya sendiri. Dan juga, prinsip
belajar dapat digunakan sebagai landasan berfikir, landasan berpijak, dan
sumber motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik
antara pendidik dan peserta didik.
Prinsip-Prinsip Belajar
Dalam perencanaan pembelajaran,
prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam
pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan
prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat[1].
Banyak tori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang
satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai prinsip
belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran. Prinsip-prinsip itu berkaitan
dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman,
pengulangan, tantangan, balikan atau penguatan, serta perbedaan indivual.
Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam
kegiatan belajar. Dari kajian belajar pengolahan informasi terungkap bahwa
tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984:
355). Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan
belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas
seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage
dan Berliner, 1984: 372).
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan
minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu
cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk
mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi dapat bersifat internal maupun
eksternal.
Keaktifan
Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu,
mempunyai kemauan dan aspirasinnya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh
orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya
mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri.
Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa
dilimpahkan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar
yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang
paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui
pengalaman langsung siswa yang tidak hanya mengamati secara langsung tetapi ia
harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab
terhadap hasilnya.
Pengulangan
Pada teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme mengungkapkan
bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan
pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya
respons benar. Pengulangan dalam belajar akan melatih daya-daya yang ada pada
manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal,
merasakan, hingga berfikir yang akan membuat daya-daya tersebut berkembang.
Tantangan
Dalam situasi belajar siswa mengahadapi suatu
tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari
bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan
mempelajari bahan belajar tersebut.
Balikan atau Penguatan
Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan
nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar
lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant
conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapatkan
nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena
takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat. Inilah yang
disebut penguatan negatif.
Perbedaan Indiviual
Siswa yang merupakan individual yang unik
artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki
perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan individu ini berpengaruh pada
cara dan hasil belajar siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar