Jumat, 16 Desember 2016

teori hakikat perkembangan peserta didik



Teori –Teori Tentang Hakikat Perkembangan Peserta Didik

a. Teori Psikodinamika
Menurut teori yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, tingkah laku manusia menupakan hasil tenaga yang beroperasi di dalam pikiran, yang sering tanpa disadari oleh individu. Menurut pandangan ini tingkah laku manusia lebih ditentukan dan dikontro oleh kekuatan psikologis, naluri-naluri irrasional (terutama naluri menyerang dan naluri seks). Freud  membedakan kepribadian manusia atas tiga unit mental atau struktrur psikis, yaitu:
  • Id merupakan aspek biologis kepribadian karena berisikan unsur-unsur biologis termasuk di dalamnya dorongan-dorongan dan impuls-impuls instingtif yang lebih dasar (lapar, haus, seks, dan agresi)
  • Ego merupakan aspek psikologis kepribadian karena timbul dari kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata dan menjadi perantara antara kebutuhan instingtif orgnisme dengan keadaan lingkungan.
  • Superego merupakan aspek sosiologis kepribadian karena merupakan wakil nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaiman yang ditasfsirkan orang tua kepada anak-anaknya melalui berbagai perintah dan larangan. Perhatian utama superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar apa salah sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oleh masyarakat.
b. Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang berasal dari luar, faktor lingkungan inilah yang menjadi penentu terpenting dari tingkah laku manusia. Menurut teori ini, orang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya melalui penaglaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah-hadiah. Tokoh teori ini adalah John B. Watson, dan Skinner.

c. Teori Humanistik
Tokoh teori ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow, yang meyakini bahwa tingakh laku manusia tidak dapat dijelaskan sabagai hasil dari konflik-konflik yang tidak disadari maupun sebagai hasil pengkondisian (conditioning) yang sederhana. Teori ini menyiratkan penolakan pendapat bahwa tingkah laku menusia ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Sebaliknya teori ini melihat manusia sebagao aktor dalam drama kehidupan bukan reaktor terhadap insting atau tekanan  lingkungan. 

d. Teori Psikologi Transpersonal
Teori ini merupakan kelanjutan dari atau lebih tepatnya pengembangan dari psikologi humanistik. Psikologi ini menunjukkan bahwa di luar alam kesadaran biasa terdapat ragam dimensi lain yang luar biasa potensialnya serta mengajarkan prakterk-praktek untuk mengantarkan manusia pada kesadaran spiritual, di atas id, ego, dan superegonya Freud.

      e. Teori Nativisme
Nativisme merupakan kata dasar dari bahasa Latin, “natus” yang artinya lahir atau “nativus” yang mempunyai arti kelahiran (pembawaan).
 ini  mengemukakan bahwa perkembangan manusia itu  telah ditentukan  oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (faktor pembawaan) baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena memang ditakdirkan demikian.
Pembawaan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Manakala pembawaannya itu baik, baik pula anak itu kelak. Begitu pula sebaliknya, andaikata anak itu berpembawaan buruk, buruk pula pada masa pendewasaannya.
Potensi-potensi yang dimiliki seseorang adalah potensi hereditas (bawaan) bukan potensi pendidikan. Pendidikan dan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan  manusia. Teori ini juga termasuk dalam filsafat idealisme yang mengemukakan bahwa perkembangan seorang hanya ditentukan oleh keturunan yaitu faktor alam yang bersifat kodrati.
Menurut nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan tidak berkuasa dalam perkembangan seorang anak. Dalam ilmu pendidikan teori nativisme ini dikenal sebagai pandangan pesemisme paedagogis. Teori ini disebut pula dengan Biologisme, karena mementingkan kehidupan individu saja, tanpa memperhatikan pengaruh-pengaruh dari luar. Perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh:
a.      Faktor genetik (keturunan)
b.      Faktor Kemampuan (bakat)
c.      Faktor Pertumbuhan
f.    Teori Empirisme
teori ini mengemukakan bahwa manusia dilahirkan seperti kertas kosong (putih) yang belum ditulis (teori tabularasa). Jadi sejak dilahirkan anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa dan anak dibentuk sekehendak pendidiknya. Disini kekuatan apa pada pendidik, pendidikan dan lingkungannya yang berkuasa atas pembentukan anak.
Teori empirisme ini merupakan kebalikan dari teori nativisme karena menganggap bahwa potensi atau pembawaan yang dimiliki seseorang itu sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam upaya pendidikan. Semuanya ditentukan oleh faktor lingkungan yaitu pendidikan. Teori ini disebut juga dengan Sosiologisme, karena sepenuhnya mementingkan atau menekankan pengaruh dari luar. Dalam ilmu pendidikan teori ini dikenal sebagai pandangan optimisme paedagogis.
g.      Teori  Konvergensi
Teori ini pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan empirisme, yang keduanya dipandang sangat berat sebelah. Tokoh utama teori konvergensi adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof sekaligus sebagai psikolog Jerman.
Teori ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa tanpa faktor pengalaman (lingkungan). Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor pembawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.
Perkembangan yang sehat akan berkembang jika kombinsai dari fasilitas yang diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati seseorang bisa mendorong berfungsinya segenap kemampuannya. Dan kondisi sosial menjadi sangat tidak sehat apabila segala pengaruh lingkungan merusak, bahkan melumpuhkan potensi psiko-fisiknya.
Dengan demikian, keadaan ini dapat dinyatakan bahwa faktor pembawaan maupun pengaruh lingkungan yang berdiri sendiri tidak dapat menentukan secara mutlak dan bukan satu-satunya faktor yang menentukan pribadi atau struktur kejiwaan seseorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar