Pentingnya
Menjaga Kesehatan menurut Islam
Dua anugerah membuat
banyak orang merugi, yaitu kesehatan dan kesempatan. (HR al-Bukhari). Gunakan
dengan baik lima hal sebelum lima yang lain: masa mudamu sebelum engkau tua;
sehatmu sebelum engkau sakit; kayamu sebelum engkau jatuh miskin; masa
senggangmu sebelum engkau sibuk; hidupmu sebelum engkau mati. (HR al-Hakim)
Meski filosofi yang sering dilontarkan dalam agama adalah: “Untuk apa kesehatan?” tidak berarti agama sama sekali tidak berbicara mengenai “Bagaimana hidup sehat?”.
As-Sa’di juga menganggap larangan Allah dalam QS al-Baqarah: 95, “Walâ tulqû bi-aydîkum ilat-tahlukah (dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan)” merupakan prinsip umum yang bisa juga dijadikan dalil bagi kesehatan. Seorang Muslim dilarang melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, termasuk di dalamnya adalah mengonsumsi atau melakukan hal-hal yang berbahaya bagi kesehatan.
Meski filosofi yang sering dilontarkan dalam agama adalah: “Untuk apa kesehatan?” tidak berarti agama sama sekali tidak berbicara mengenai “Bagaimana hidup sehat?”.
As-Sa’di juga menganggap larangan Allah dalam QS al-Baqarah: 95, “Walâ tulqû bi-aydîkum ilat-tahlukah (dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan)” merupakan prinsip umum yang bisa juga dijadikan dalil bagi kesehatan. Seorang Muslim dilarang melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, termasuk di dalamnya adalah mengonsumsi atau melakukan hal-hal yang berbahaya bagi kesehatan.
Tuntunan
kesehatan fisik dalam agama tentu saja dibangun di atas pondasi kesehatan rohani,
karena ajaran agama bukanlah teori-teori kedokteran. Contoh-contoh yang
disebutkan di atas semuanya memiliki landasan moral, tak murni tuntunan medis.
Dalam pandangan agama,
kesehatan merupakan kemaslahatan duniawi yang harus dijaga selagi tidak bertentangan
dengan kemaslahatan ukhrawi atau kemaslahatan yang lebih besar. Kesehatan,
kedokteran dan semacamnya sudah menyangkut kepentingan umum yang dalam
pandangan Islam merupakan kewajiban kolektif (fardu kifayah) bagi kaum
Muslimin.
Sebagai gejala jasmani murni,
sehat dan sakit, boleh dibilang tidak secara langsung berkaitan dengan agama.
Dalam pandangan agama, sehat belum tentu lebih baik daripada sakit, begitu pula
sebaliknya. Sehat dan sakit merupakan dua kondisi yang sama-sama memiliki
potensi untuk mendapat label baik atau buruk. Jika manusia bisa mendapat pahala
atau dosa dari kondisi sehatnya, maka ia juga bisa mendapatkan pahala atau dosa
dari kondisi sakitnya. Di situlah sebetulnya fokus pandangan agama mengenai
sehat dan sakit. Selebihnya dari itu, merupakan pengembangan dari
prinsip-prinsip moral seperti telah disebutkan di atas.
Pada dasarnya, agama
sangat menganjurkan kesehatan, sebab apa yang bisa dilakukan oleh seseorang
dalam keadaan sehat lebih banyak daripada yang apa yang bisa dilakukannya dalam
keadaan sakit. Manusia bisa beribadah, berjihad, berdakwah dan membangun
peradaban dengan baik, jika faktor fisik berada dalam kondisi yang kondusif.
Jadi, kesehatan fisik, secara tidak langsung, merupakan faktor yang cukup
menentukan bagi tegaknya kebenaran dan terwujudnya kebaikan.
Namun
demikian, posisi kesehatan tetap sebagai sarana, bukan tujuan. Tujuan agama
adalah tegaknya kebenaran dan terwujudnya kebaikan itu sendiri. Maka, oleh
karena itu, dalam sabda-sabda Rasulullah dapat dengan mudah kita temukan
janji-janji manis untuk orang-orang yang sakit: bahwa penyakit merupakan
penghapus dosa dan mesin pahala yang besar.
Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam menyatakan bahwa orang meninggal karena sakit perut atau
terkena wabah thaun, maka ia syahid. Orang yang sabar saat kedua matanya buta,
maka ia mendapat surga (HR al-Bukhari), dan lain sebagainya. Tapi, hal ini sama
sekali tidak bisa diartikan bahwa Islam menganjurkan sakit perut, sakit mata,
dan seterusnya. Yang dianjurkan adalah sikap tabah dan rela terhadap takdir
ketika penyakit-penyakit tersebut menyerangnya. Sebab, misi agama adalah
mengajak manusia agar menjadikan setiap kondisi dalam hidupnya sebagai sarana
untuk mendulang kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam kondisi sehat
maupun sakit, kaya maupun miskin, kuat maupun lemah, dan seterusnya.
Selain itu, janji pahala
tersebut, bisa dipahami sebagai paradigma Islam dalam membesarkan hati
orang-orang yang berada dalam kondisi sengsara agar ia tidak putus asa,
sebagaimana Islam juga senantiasa memberikan peringatan dan menyalakan lampu
kuning untuk orang-orang yang berada dalam kondisi sehat-sejahtera, agar ia
tidak terlena.
Dengan demikian, maka
jelas sekali bahwa agama mengajarkan hidup sehat, meskipun di balik itu, yang
jauh lebih ditekankan oleh agama adalah bagaimana menggunakan kesehatannya itu
untuk sesuatu yang baik. Kondisi terbaik yang paling diimpikan oleh agama bagi
kehidupan masyarakat adalah kebaikan dalam kesehatan. Selebihnya dari itu,
kesehatan boleh hilang asal kebaikan tetap terjaga, dalam kondisi apapun.
Ada beberapa riwayat
Hadis yang mengandung ajaran-ajaran hidup sehat. Misalnya, sabda Rasulullah ?,
“Lakukanlah bepergian, maka kalian sehat.” (HR Ahmad). “… dan berpuasalah
kalian, maka kalian sehat.” (HR ath-Thabarani). “Orang yang tidur dalam keadaan
tangannya berbau lemak, lalu ia terkena sesuatu, maka janganlah ia mencela
kecuali dirinya sendiri.” (HR ad-Darimi).
Ada beberapa riwayat
yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menerapkan pola
makan yang sehat. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam memakan kurma dengan
mentimun. (HR al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah melarang tidur setelah makan
(HR Abu Nuaim). Rasulullah menganjurkan mengawali berbuka dengan kurma, jika
tidak ada maka dengan air. (HR at-Tirmidzi) Rasulullah memerintahkan makan
malam meskipun dengan setelapak kurma. (HR at-Tirmidzi).
Ada beberapa ulama
yang secara khusus menulis ajaran kesehatan dalam Islam, misalnya Ibnu Qayyim
al-Jauziyah dalam ath-Thibb an-Nabawi. Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam al-آdâb
asy-Syar’iyah, secara panjang lebar mengurai pola hidup sehat yang diterapkan
oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam Begitu pula asy-Syami dalam kitab
sejarah Subulul-Hudâ wa-Rasyad, secara khusus menulis judul “Sejarah Rasulullah
Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam Menjaga Kesehatan”. Juga, Imam al-Ghazali
dalam Ihyâ’ Ulûmiddin, tidak jarang menyinggung hikmah-hikmah kesehatan yang
terdapat dalam ajaran-ajaran Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar