Pengaruh
Kasih Saying Orang Tua Terhadap Kemandirian Anak
etiap orangtua tentu tidak ingin mengalami hambatan dalam
proses pembentukan kepribadian yang matang pada anaknya. Akan tetapi, dengan
berbagai alasan seperti ; kesibukan, faktor ekonomi, kondisi sosial, konflik
dalam keluarga, atau kurangnya pengetahuan membuat orangtua tidak memperhatikan
dan mempersiapkan cara mengarahkan maupun mendidik anak dengan baik.
Orangtua bertanggungjawab untuk
memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak-anaknya. Karena, kasih sayang
dan perhatian merupakan landasan terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan
psikologis dan sosial anak. Jika seorang anak mengalami ketidakseimbangan rasa
cinta, dalam bersosialisasi anak akan melakukan hal-hal yang akan menjadikan
dirinya sebagai pusat perhatian semua orang, seperti ; menjadi pemalu, pendiam,
pemurung, kurang percaya diri, aktif, dan hyperaktif.
Karena kasih sayang orang tua itu
bukan hanya berupa materi, akan tetapi yang terpenting adalah perhatian lebih
kepada anak. Contoh ; rutin bertanya kepada anak tentang bagaimana pelajaran di
sekolah maupun di lingkungan apakah ada kesulitan atau tidak, memberikan
motivasi kepada anak apabila anak sedang kurang baik suasana hatinya. Karena,
jika anak sudah merasa bahwa dirinya kekurangan perhatian dari orangtua, maka
anak akan mencari kesenangan sendiri diluar rumah.
Adapun hal-hal yang perlu disikapi orang tua sebagai
upaya mewujudkan kemandirian
anak antara lain:
1. Komunikasi.
Kemauan dan kesabaran dalam berkomunikasi dengan anak merupakan cara efektif untuk menghindarkan anak dari pengaruh negatif luar. Komunikasi yang dimaksud disini merupakan komunikasi dua arah, yaitu dua belah pihak saling mau mendengarkan pandangan satu dengan lainya.Sehingga orang tua dapat mengerti kerangka berfikir anak begitu pula sebaliknya. Komunukasi yang berkualitas merupakan komunikasi yang dilakukan secara natural, tidak dalam suasana yang kaku, misalkan berkomunikasi disaat makan bersama atau disaat rekreasi.
2. Kesempatan.
Orang tua sebaiknya memeberi kesempatan kepada anak remajanya untuk memebuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan anak Anda nengusahakan sendiri apa yang diperlukanya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Dalam hal ini orang tua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi, jika tindakan sang remaja dianggap bertentangan dengan norma agama atau membahayakan dirinya dan orang lain.
3. Tanggung Jawab.
Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggung jawab remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang berdampak negatif pada dirinya. Dalam banyak permasalahan, masih banyak orang tua yang belum menyadari hal ini.
Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh kepolisian karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orang tualah yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari hukuman, sehingga anak tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya. Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk mengulangi kesalahanya dilain hari. Selanjutnya yang terjadi si anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya kemandirian.
4. Konsistensi.
Konsistensi orang tua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja sejak dini akan mejadi panutan pengembangan kemandirian dan pengembangan berfikir secara dewasa. Hal ini akan mempermudah remaja merencanakan hidupnya dan akan lebih mampu memilih berbagai alternatif karena kemampuan memperhitungkan resikonya.
Pentingnya pendidikan kemandirian sejak usia dini di dalam kehidupan keluarga dilakukan, karena diharapkan remaja dapat tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita ingat adalah: "Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya mewujudkanya mulai sekarang?". Negara ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka jangan lagi kita membangun generasi baru yang juga penuh ketergantungan yang menjadi beban keluarga dan bangsa.
1. Komunikasi.
Kemauan dan kesabaran dalam berkomunikasi dengan anak merupakan cara efektif untuk menghindarkan anak dari pengaruh negatif luar. Komunikasi yang dimaksud disini merupakan komunikasi dua arah, yaitu dua belah pihak saling mau mendengarkan pandangan satu dengan lainya.Sehingga orang tua dapat mengerti kerangka berfikir anak begitu pula sebaliknya. Komunukasi yang berkualitas merupakan komunikasi yang dilakukan secara natural, tidak dalam suasana yang kaku, misalkan berkomunikasi disaat makan bersama atau disaat rekreasi.
2. Kesempatan.
Orang tua sebaiknya memeberi kesempatan kepada anak remajanya untuk memebuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan anak Anda nengusahakan sendiri apa yang diperlukanya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Dalam hal ini orang tua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi, jika tindakan sang remaja dianggap bertentangan dengan norma agama atau membahayakan dirinya dan orang lain.
3. Tanggung Jawab.
Bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggung jawab remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang berdampak negatif pada dirinya. Dalam banyak permasalahan, masih banyak orang tua yang belum menyadari hal ini.
Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh kepolisian karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orang tualah yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari hukuman, sehingga anak tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya. Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk mengulangi kesalahanya dilain hari. Selanjutnya yang terjadi si anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya kemandirian.
4. Konsistensi.
Konsistensi orang tua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja sejak dini akan mejadi panutan pengembangan kemandirian dan pengembangan berfikir secara dewasa. Hal ini akan mempermudah remaja merencanakan hidupnya dan akan lebih mampu memilih berbagai alternatif karena kemampuan memperhitungkan resikonya.
Pentingnya pendidikan kemandirian sejak usia dini di dalam kehidupan keluarga dilakukan, karena diharapkan remaja dapat tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita ingat adalah: "Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya mewujudkanya mulai sekarang?". Negara ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka jangan lagi kita membangun generasi baru yang juga penuh ketergantungan yang menjadi beban keluarga dan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar