Besar-Kecilnya Akibat Karma Dari Suatu Perbuatan Atau
Perkataan
Terdapat beberapa penunjang yang dapat mempengaruhi
besar-kecil kekuatan akibat dari suatu karma baik maupun dari suatu karma
buruk.
Pertama [1] adalah penunjang
dalam bentuk perasaan disaat kita melakukan suatu perbuatan atau perkataan.
Melukai seseorang dengan perasaan sangat marah dan benci akan menghasilkan
akibat karma buruk yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan melukai
seseorang dengan sedikit saja rasa marah atau benci. Atau jika kita mencuri
dengan dilandasi perasaan serakah [tidak puas atau tidak bersyukur dengan apa
yang kita miliki] akan menghasilkan akibat karma buruk yang jauh lebih besar
jika dibandingkan dengan kita mencuri agar tidak mati kelaparan.
Demikian juga sebaliknya, dalam
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta [menolong, menyelamatkan
atau membahagiakan mahluk lain], jika kita melakukannya dengan dilandasi
perasaan belas kasih dan kebaikan yang benar-benar tulus, itu akan menghasilkan
akibat karma baik yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kita membantu
orang karena ada maunya, atau karena diberikan imbalan, atau mengharapkan
balasan.
Kedua [2] adalah penunjang dalam
bentuk avidya [kebodohan, kesalahpahaman] disaat kita melakukan suatu perbuatan
atau perkataan. Jika kita melakukan suatu perbuatan atau perkataan secara
egois, hanya peduli pada diri kita sendiri dan tidak peduli pada masalah
penting orang lain atau yang menyakiti mereka. Misalnya kita secara sengaja
pergi ke suatu tempat, untuk melanggar aturan adat yang dianggap sangat penting
oleh masyarakat disana [tuan rumah] karena kita merasa diri kita sepenuhnya
benar. Atau kita ikut berperang untuk membunuh semua orang dari kelompok
tertentu dan kita berpikir bahwa hal itu sepenuhnya benar karena kita merasa
membela kebenaran. Atau kita membunuh binatang dan merasa itu sepenuhnya benar
karena mereka diciptakan Tuhan untuk kita gunakan. Jika pikiran [avidya]
seperti itu menyertai perbuatan atau perkataan kita, maka akibat karma buruknya
akan jauh lebih besar dan berat.
Lebih jauh dari itu, suatu
tindakan berdampak dhukacitta secara karma akan menjadi berat sekali bobotnya
jika kita melakukannya dengan riang-gembira, kita merasa senang atau puas
setelah melakukannya, tidak menganggapnya sebagai sebuah kesalahan dan tidak
menganggap hal itu memiliki akibat karma buruk.
Kebalikan dari hal ini adalah
jika kita secara terbuka mengakui bahwa perbuatan atau perkataan yang kita
lakukan itu merupakan sebuah kesalahan. Bahkan
walaupun disaat melakukannya kita tidak menganggapnya sebagai suatu kesalahan,
tapi kemudian setelah itu terjadi kita menyadari dan mengakui bahwa itu
merupakan kesalahan, hal itu akan mulai meringankan kekuatan akibat karma
buruknya. Yang lebih mendalam lagi jika kita berpikir untuk melakukan upaya
memperbaiki dampak dhukacitta yang telah kita timbulkan dengan cara melakukan
tindakan-tindakan penyeimbang yang berdampak sukhacitta.
Ketiga [3] adalah penunjang dalam bentuk besar
dampak kesengsaraan atau kebahagiaan yang diakibatkan dari perbuatan atau
perkataan kita terhadap mahluk lain. Misalnya membunuh seseorang akan menghasilkan
akibat karma buruk yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan memukulnya.
Memfitnah seseorang akan menghasilkan akibat karma buruk yang jauh lebih besar
jika dibandingkan dengan membentaknya. Sekali menipu merugikan ratusan orang
akan menghasilkan akibat karma buruk yang jauh lebih besar jika dibandingkan
dengan sekali menipu merugikan satu orang saja.
Demikian juga sebaliknya, terkait
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta. Misalnya menyelamatkan
nyawa seseorang akan menghasilkan akibat karma baik yang jauh lebih besar jika
dibandingkan dengan memberikannya pakaian, karena perbedaan besar dampaknya.
Atau memberikan uang Rp. 1 juta kepada orang miskin akan menghasilkan akibat
karma baik yang lebih besar jika dibandingkan dengan memberikannya kepada
seorang kaya-raya.
Keempat [4] adalah penunjang
dalam bentuk manfaat yang diterima dari orang yang menjadi sasaran perbuatan
atau perkataan kita. Ini tergantung dari manfaat yang kita terima [atau yang
diterima orang lain] dari orang tersebut di masa lampau, di masa kini dan di
masa depan. Misalnya menjelek-jelekkan seorang Guru suci yang asli atau
penyebar ajaran dharma yang asli [ajaran dharma yang sesuai kenyataan kosmik]
akan menghasilkan akibat karma buruk yang jauh lebih besar dan berat jika
dibandingkan dengan menjelek-jelekkan orang awam, karena manfaat mereka.
Demikian juga sebaliknya, dalam
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta, misalnya melayani atau
menolong seorang Guru suci yang asli atau penyebar ajaran dharma yang asli akan
menghasilkan akibat karma baik yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan
melayani atau menolong orang awam, karena manfaat mereka.
Kelima [5] adalah penunjang dalam
bentuk tingkat kondisi keadaan dari orang yang menjadi sasaran perbuatan atau
perkataan kita. Misalnya menyakiti orang yang sedang terpuruk [tertekan,
stress] atau misalnya dalam keadaan sakit akan menghasilkan akibat karma buruk
yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan menyakiti orang yang sedang
bahagia atau dalam keadaan sehat. Atau melukai orang yang memiliki banyak
sifat-sifat baik akan menghasilkan akibat karma buruk yang jauh lebih besar
jika dibandingkan dengan melukai orang yang memiliki sifat egois atau yang
banyak melakukan pelanggaran dharma.
Demikian juga sebaliknya, dalam
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta, misalnya menolong orang
yang sedang terpuruk [tertekan, stress] atau misalnya dalam keadaan sakit akan
menghasilkan akibat karma baik yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan
menolong orang yang sedang bahagia atau dalam keadaan sehat.
Keenam [6] adalah penunjang dalam
bentuk janji atau sumpah. Misalnya kita mencaci-maki seseorang yang melukai
kita padahal kita sudah bersumpah untuk tidak mencaci-maki siapapun, itu akan
menghasilkan akibat karma buruk yang lebih berat jika dibandingkan ketika kita
belum bersumpah apapun.
Demikian juga sebaliknya, jika
kita menahan diri sekuat-kuatnya untuk tidak mencaci-maki seseorang yang
melukai kita karena kita sudah bersumpah untuk tidak mencaci-maki siapapun,
maka tindakan itu kemudian akan menghasilkan akibat karma baik tertentu.
Ketujuh [7] adalah penunjang
dalam bentuk pengulangan. Misalnya kita melakukan suatu pencurian dan di masa
sebelumnya kita telah berkali-kali melakukannya, maka pencurian itu akan
menghasilkan akibat karma buruk yang lebih berat dibandingkan jika kita baru
sekali ini saja melakukan pencurian. Atau jika kita tidak memiliki kehendak
untuk berhenti mengulanginya. Misalnya kita menghidupkan musik keras-keras di
malam hari dan tidak peduli hal itu membuat tetangga tidak bisa tidur, kemudian
kita mengulanginya lagi dimalam-malam berikutnya.
Demikian juga sebaliknya, dalam
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta, misalnya jika kita
memberikan makanan kepada pengemis kelaparan dan di masa sebelumnya kita telah
berkali-kali melakukannya, maka tindakan memberikan makanan kepada pengemis
kelaparan itu akan menghasilkan akibat karma baik yang lebih kuat dibandingkan
jika kita baru sekali ini saja melakukannya.
Kedelapan [8] adalah penunjang dalam bentuk jumlah
orang yang melakukan suatu perbuatan atau perkataan. Misalnya kita melakukan
korupsi dan kita adalah bagian dari suatu komplotan, itu akan menghasilkan
akibat karma buruk yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kalau kita
melakukannya sendirian. Atau jika kita mengeroyok seseorang itu akan
menghasilkan akibat karma buruk yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan
kalau kita sendirian saja memukulinya.
Demikian juga sebaliknya, dalam
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta, seperti ngayah di pura,
menyumbang ke panti asuhan, dsb-nya, jika kita melakukannya dengan membuat
kelompok bersama banyak orang lainnya [yang ikut dengan senang hati, bukan
terpaksa], maka akan menghasilkan akibat karma baik yang jauh lebih besar jika
dibandingkan dengan kita melakukannya sendirian.
Kesembilan [9] adalah penunjang dalam bentuk ada atau
tidaknya kekuatan penyeimbangnya. Misalnya kita mencuri uang milik seseorang
[berdampak dhukacitta], apakah kita di masa sebelumnya pernah memberikannya
uang [berdampak sukhacitta] sebagai penyeimbang, jika demikian itu akan
menghasilkan akibat karma buruk yang lebih ringan jika dibandingkan kita di
masa sebelumnya tidak pernah memberikannya uang.
Demikian juga sebaliknya, terkait
perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta. Misalnya kita memberikan
uang pada seseorang [berdampak sukhacitta], apakah kita di masa sebelumnya
pernah mencuri uang darinya [berdampak dhukacitta], jika demikian itu akan
menghasilkan akibat karma baik yang lebih lemah jika dibandingkan kita di masa
sebelumnya tidak pernah mencuri uangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar