PERAN KURIKULUM
Kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan
pencapaian tujuan pendidikan. Menurut
Oemar Hamalik (1990), kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara
sistematis mengemban peran sebagai berikut :
a) Peran konservatif
Kurikulum memiliki tugas dan
tanggung jawab mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi
muda. Sekolah sebagai suatu lembaga sosial dituntut dapat mempengaruhi dan
membina tingkah laku para siswa dengan nilai- nilai sosial yang ada dalam
masyarakat. Hal ini sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses
sosial. Karena itu pendidikan pada hakekatnya berfungsi pula menjembatani
antara siswa dengan orang dewasa di dalam proses pembudayaan yang semakin
berkembang menjadi lebih kompleks, dan di sinilah peranan kurikulum turut
membantu proses tersebut.
Melalui kurikulum, siswa perlu memahami dan menyadari norma-norma dan pandangan hidup masyarakatnya, sehingga ketika kembali ke masyarakat, dapat menjunjung tinggi dan berperilaku sesuai dengan norma-norma tersebut.
Melalui kurikulum, siswa perlu memahami dan menyadari norma-norma dan pandangan hidup masyarakatnya, sehingga ketika kembali ke masyarakat, dapat menjunjung tinggi dan berperilaku sesuai dengan norma-norma tersebut.
Peran ini penting bagi masyarakat,
dikaitkan dengan cepatnya pengaruh budaya asing yang masuk sebagaikonsekuensi
era globalisasi, yang dimungkinkan budaya baru yang tidak sesuai dengan budaya
lokal, akan semakin menggerogoti budaya asli. Dengan peran konservatif
kurikulum berperan menangkal berbagai macam pengaruh yang dapat merusak
nilai-nilai luhur masyarakat, sehingga identitas masyarakat dapat selalu
terjaga dan terpelihara.
b) Peran kreatif
Sekolah
memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai dengan tuntutan
zaman. Sebab, pada kenyataannya masyarakat tidak bersifat statis, akan tetapi
dinamis yang selalu mengalami perubahan. Dalam rangka inilah kurikulum memiliki
peran kreatif. Kurikulum melakukan
kegiatan-kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam arti mencipta dan menyusun
sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa yang akan
datang dalam masyarakat. Guna membantu setiap individu mengembangkan semua
potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman,
cara berpikir, kemampuan dan keterampilan yang baru yang dapat bermanfaat bagi
masyarakat.
Dalam peran kreatifnya, kurikulum harus mengandung
hal-hal baru sehingga dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap
potensi yang dimilikinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan
bermasyarakat yang dinamis. Kurikulum yang tidak mengandung unsur-unsur
baru, akan menghasilkan pendidikan yang ketinggalan zaman, sehingga berarti
bahwa apa yang diberikan sekolah bagi siswa menjadi kurang bermakna, karena
tidak relevan lagi dengan kebutuhan dan tuntutan sosial masyarakat.
c) Peran Kritis dan Evaluatif
Kebudayaan senantiasa berubah dan sekolah tidak hanya
mewariskan kebudayaan yang ada, melainkan juga menilai, memilih unsur-unsur
kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal ini, kurikulum turut aktif
berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menekankan pada unsur berpikir
kritis. Kurikulum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang
perlu dipertahankan, dan nilai atau budaya baru yang mana harus dimiliki anak
didik. Kurikulum harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu
yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik.
Ketiga peranan kurikulum
di atas tentu saja harus berjalan secara seimbang dan harmonis agar dapat
memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan
yang menyebabkan peranan kurikulum persekolahan menjadi tidak optimal.
Menyelaraskan ketiga peranan kurikulum tersebut menjad tanggung jawab semua
pihak yang terkait dalam proses pendidikan, diantaranya guru, kepala sekolah,
pengawas, orang tua, siswa, dan masyarakat. Denegan demikian, pihak-pihak yang
terkait idealnya dapat memahami tujuan dan isi dari kurikulum yang diterapkan
sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
Pengembangan kurikulum harus
memperhatikan ketiga peran tersebut, karena ketiganya harus berjalan seimbang. Kurikulum
yang menonjolkan peran konservatifnya akan cenderung membuat pendidikan
ketinggalan zaman, sebaliknya kurikulum yang menonjolkan peran kreatifnya,
dapat membuat nilai-nilai budaya lokal hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar