Tahap-tahap perkembangan moral anak
Perkembangan moral
seorang anak berlangsung secara bertahap, dimana tahap yang satu hanya dapat
dicapai apabila tahap sebelumnya telah dilampaui anak. Tiap-tiap tahap itu
mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu. J. Piaget dan L. Kohlberg
mengatakan bahwa perkembangan moral seorang anak sejalan dengan perkembangan
aspek kognitifnya.
Tahap usia 0 – 3 tahun
Anak belum mampu berpikir mengapa suatu tingkahlaku itu
dikatakan baik atau tidak baik, benar atau salah. Pengertian anak pada
masa-masa ini tentang baik dan tidak baiknya suatu tingkahlaku, hanya terbatas
pada konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti laku tersebut.
Pada masa-masa ini, anak melihat orangtua sebagai otoritas yang
mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Apa yang ditentukan oleh orangtua harus
diturut oleh anak. Orang tua berperan besar dalam membimbing dan mengarahkan
tingkahlaku anak. Apabila ada anak telah ditanamkan disiplin yang teratur, maka
pada usia 3 tahun anak akan mengetahui perbuatan apa yang diperbolehkan karena
itu benar, dan perbuatan apa yang tidak disetujui karena itu salah.
Tahap usia 3 – 6 tahun
Pada masa ini anak sudah memiliki dasar-dasar dari sikap-sikap
moralitas terhadap kelompok sosialnya. Pada masa ini anak harus lebih
ditunjukkan mengenai bagaimana ia harus bertingkahlaku. Anak harus dapat
merasakan akibat yang menyenangkan dari tingkahlakunya yang sesuai dengan
harapan kelompok sosial, demikian pula akibat yang tidak menyenangkan apabila
ia tidak berlaku demikian.
Peranan orangtua sangat besar dalam mendisiplin anak untuk
berbuat baik. Dengan adanya rangsangan-rangsangan dari orangtua untuk anak
berbuat baik, diharapkan bahwa pada anak dapat tertanam nilai-nilai moral yang
baik. Orangtua yang sering menceritakan anak-anaknya akan cerita-cerita
keagamaan, dapat pula merangsang anak untuk meniru perbuatan-perbuatan baik
yang pada umumnya mendatangkan kesenangan dan menghindari perbuatan-perbuatan
yang dapat mendatangkan hukuman.
Pada usia 5 – 6 tahun, penanaman konsep-konsep moralitas pada
anak-anak ini mungkin mengalami kesulitan disebabkan karena sifats-sifat
egoisme anak yang sedang menonjol pada masa ini.
Tahap usia 6 - remaja
Pada masa ini, anak sudah memasuki sekolah, yang berarti bahwa
lingkungan kehidupan anak juga bertambah luas. Anak mulai mengenal adanya
kelompok sosial yang lain disamping keluarganya. Baik anak laki-laki maupun
perempuan, belajar untuk bertingkahlaku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
kelompoknya. Nilai-nilai atau kaidah-kaidah moral sebagian besar lebih
ditentukan oleh norma-norma yang terdapat dalam lingkungan kelompoknya. Maka
pada usia 8 – 9 tahun, konsep-konsep mereka bertambah luas dan umum. Mereka
sadar bahwa ‘mencuri adalah salah’ dan bukan hanya ‘salah kalau mencuri sebuah
bola’. Pada usia 10 – 12 tahun, anak sudah dapat mengetahui dengan baik
alasan-alasan atau prinsip-prinsip yang mendasari suatu peraturan. Anak sudah
mampu membedakan macam-macam nilai moral serta macam-macam situasi di mana
nilai-nilai moral itu dapat dikenakan. Anak sudah mengenal konsep-konsep
moralitas seperti: kejujuran, hak milik, keadilan dan kehormatan. Pada anak
juga terdapat dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai
baik oleh orang lain.
Orang tua yang penuh kasih dan pengertian akan anak-anaknya,
yang tidak lagi terlalu bersikap otoriter seperti sikapnya terhadap anak-anak
yang lebih kecil, serta yang selalu menunjukkan contoh-contoh yang baik dalam
kehidupannya sehari-hari, diharapkan dapat mencegah anak dari berbuat hal-hal
yang tidak baik, yang mungkin ditirunya dari kelompok sosialnya.
Menjelang usia remaja, anak sudah mengembangkan nilai-nilai
moral sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman di rumah dan dalam hubungannya
dengan anak-anak lain.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa terhadap perkembangan moral anak, orangtua mempunyai peranan
penting, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu
bagaimana cara dan sikap orangtua dalam mendidik, mendisiplin dan menanamkan
nilai-nilai moral kepada anak-anaknya. Sedangkan secara tidak langsung yaitu
bagaimana tatacara dan sikap hidup si orang tua sendiri sehari-harinya, yang
oleh anak dapat ditiru melalui proses belajar. Diharapkan, nilai-nilai moral
yang sudah ditanamkan orangtua dirumah, dapat pula dikembangkan anak pada lingkungan
yang lebih luas di mana anak itu kelak akan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar