Sabtu, 31 Desember 2016

Tahap-tahap perkembangan moral anak

Tahap-tahap perkembangan moral anak

Perkembangan moral seorang anak berlangsung secara bertahap, dimana tahap yang satu hanya dapat dicapai apabila tahap sebelumnya telah dilampaui anak. Tiap-tiap tahap itu mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu. J. Piaget dan L. Kohlberg mengatakan bahwa perkembangan moral seorang anak sejalan dengan perkembangan aspek kognitifnya.
Tahap usia 0 – 3 tahun
Anak belum mampu berpikir mengapa suatu tingkahlaku itu dikatakan baik atau tidak baik, benar atau salah. Pengertian anak pada masa-masa ini tentang baik dan tidak baiknya suatu tingkahlaku, hanya terbatas pada konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti laku tersebut.
Pada masa-masa ini, anak melihat orangtua sebagai otoritas yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Apa yang ditentukan oleh orangtua harus diturut oleh anak. Orang tua berperan besar dalam membimbing dan mengarahkan tingkahlaku anak. Apabila ada anak telah ditanamkan disiplin yang teratur, maka pada usia 3 tahun anak akan mengetahui perbuatan apa yang diperbolehkan karena itu benar, dan perbuatan apa yang tidak disetujui karena itu salah.
Tahap usia 3 – 6 tahun
Pada masa ini anak sudah memiliki dasar-dasar dari sikap-sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya. Pada masa ini anak harus lebih ditunjukkan mengenai bagaimana ia harus bertingkahlaku. Anak harus dapat merasakan akibat yang menyenangkan dari tingkahlakunya yang sesuai dengan harapan kelompok sosial, demikian pula akibat yang tidak menyenangkan apabila ia tidak berlaku demikian.
Peranan orangtua sangat besar dalam mendisiplin anak untuk berbuat baik. Dengan adanya rangsangan-rangsangan dari orangtua untuk anak berbuat baik, diharapkan bahwa pada anak dapat tertanam nilai-nilai moral yang baik. Orangtua yang sering menceritakan anak-anaknya akan cerita-cerita keagamaan, dapat pula merangsang anak untuk meniru perbuatan-perbuatan baik yang pada umumnya mendatangkan kesenangan dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan hukuman.
Pada usia 5 – 6 tahun, penanaman konsep-konsep moralitas pada anak-anak ini mungkin mengalami kesulitan disebabkan karena sifats-sifat egoisme anak yang sedang menonjol pada masa ini.
Tahap usia 6 - remaja
Pada masa ini, anak sudah memasuki sekolah, yang berarti bahwa lingkungan kehidupan anak juga bertambah luas. Anak mulai mengenal adanya kelompok sosial yang lain disamping keluarganya. Baik anak laki-laki maupun perempuan, belajar untuk bertingkahlaku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Nilai-nilai atau kaidah-kaidah moral sebagian besar lebih ditentukan oleh norma-norma yang terdapat dalam lingkungan kelompoknya. Maka pada usia 8 – 9 tahun, konsep-konsep mereka bertambah luas dan umum. Mereka sadar bahwa ‘mencuri adalah salah’ dan bukan hanya ‘salah kalau mencuri sebuah bola’. Pada usia 10 – 12 tahun, anak sudah dapat mengetahui dengan baik alasan-alasan atau prinsip-prinsip yang mendasari suatu peraturan. Anak sudah mampu membedakan macam-macam nilai moral serta macam-macam situasi di mana nilai-nilai moral itu dapat dikenakan. Anak sudah mengenal konsep-konsep moralitas seperti: kejujuran, hak milik, keadilan dan kehormatan. Pada anak juga terdapat dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain.
Orang tua yang penuh kasih dan pengertian akan anak-anaknya, yang tidak lagi terlalu bersikap otoriter seperti sikapnya terhadap anak-anak yang lebih kecil, serta yang selalu menunjukkan contoh-contoh yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, diharapkan dapat mencegah anak dari berbuat hal-hal yang tidak baik, yang mungkin ditirunya dari kelompok sosialnya.
Menjelang usia remaja, anak sudah mengembangkan nilai-nilai moral sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman di rumah dan dalam hubungannya dengan anak-anak lain.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terhadap perkembangan moral anak, orangtua mempunyai peranan penting, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bagaimana cara dan sikap orangtua dalam mendidik, mendisiplin dan menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anaknya. Sedangkan secara tidak langsung yaitu bagaimana tatacara dan sikap hidup si orang tua sendiri sehari-harinya, yang oleh anak dapat ditiru melalui proses belajar. Diharapkan, nilai-nilai moral yang sudah ditanamkan orangtua dirumah, dapat pula dikembangkan anak pada lingkungan yang lebih luas di mana anak itu kelak akan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar