Pedoman Dalam Menjalani Kehidupan
Secara umum pedoman dharma
mendasar dalam kehidupan ini adalah agar kita berhati-hati dalam perbuatan dan
perkataan kita. Hindari menyakiti mahluk lain dan banyak-banyaklah melakukan
kebaikan. Hindari memiliki sifat hanya peduli kepada diri sendiri, hanya memandang
diri kita sendiri dan tidak peduli pada masalah penting orang lain atau yang
dapat berakibat menyakiti mereka.
Tapi tentu saja karena kehidupan
dan keberadaan kita sangat rumit dan kompleks, sehingga kadang-kadang tidak
terhindarkan kita terpaksa harus melakukan perbuatan atau perkataan yang
berdampak dhukacitta. Berlandaskan pembahasan-pembahasan mengenai karma [dari
para Maharsi, para Guru suci dan para Danghyang yang wikan dari berbagai jaman]
dapat memberikan kita panduan sangat berharga ketika kita melakukan perbuatan
dan perkataan berdampak dhukacitta atau sukhacitta dalam hidup ini, dimana kita
mengetahui cara membuatnya menjadi lebih lemah atau lebih kuat.
Misalnya kita berprofesi sebagai
petani, ada saat-saat dimana kita terpaksa tidak terhindarkan harus membasmi
banyak sekali hama dan serangga yang merusak tanaman. Atau mungkin rumah kita
diserbu oleh ratusan kecoa sehingga kita terpaksa harus membasminya.
Berlandaskan
pembahasan-pembahasan mengenai karma ini, kita lakukan tanpa rasa marah atau
benci, tidak juga dengan rasa riang-gembira, kita lakukan dengan niat atau
motif baik [agar kita dapat memberi makan keluarga dan orang lain bisa makan
beras atau sayuran, atau dengan tidak ada kecoa agar keluarga kita tidak
sakit], kita lakukan tidak terlalu sering, kita lakukan sendirian saja [tidak
mengajak orang lain] dan kita lakukan dengan banyak-banyak minta maaf. Yang
terakhir adalah kita melakukan upaya memperbaiki dampak dhukacitta yang
ditimbulkan dengan mendoakan hama, serangga atau kecoa yang sudah kita basmi,
serta kita dengan tekun melaksanakan sadhana-sadhana yang dapat menghapus karma
buruk seperti melakukan sadhana penjapaan mantra Ista dewata [mantra yoga] atau
melakukan sadhana mandi penyucian [melukat] di pathirtan yang sakral dan
dilakukan dengan tata cara melukat yang tepat.
Di Bali kita banyak memiliki
tradisi spiritual seperti ini. Misalnya dalam menangani serbuan puluhan ribu
hama tikus di sawah. Yang secara tradisi spiritual yang tepat, para petani
membasmi tikus tidak dengan rasa marah atau benci, tidak juga dengan rasa
riang-gembira, tapi dengan rasa segan kepada sesama mahluk tikus disebut
sebagai "Jro Ketut". Dilakukan dengan niat atau motif baik agar
penduduk desa tidak mati kelaparan bisa makan beras dan sayuran. Kemudian
setelah dibasmi dilakukan upaya memperbaiki dampak dhukacitta yang ditimbulkan,
yaitu mengimbanginya dengan tindakan sukhacitta, dengan cara melakukan upacara
ngaben [penyeberangan atma] tikus-tikus tersebut. Yang terakhir adalah
melakukan upacara penyucian desa dan para petani yang terlibat dalam pembasmian
tikus tersebut. K etika tidak
terhindarkan kita terpaksa harus melakukan perbuatan yang berdampak dhukacitta,
kita juga dapat melakukan upaya agar dampak akibat karma buruknya menjadi
sangat lemah.
Hal yang sama juga berlaku
sebaliknya disaat kita melakukan perbuatan atau perkataan yang berdampak
sukhacitta, seperti ngayah di pura, menyumbang ke panti asuhan, melakukan puja,
melukat, dsb-nya, alangkah baiknya kita mengajak orang-orang lain [yang mau
ikut dengan senang hati, bukan terpaksa] untuk melakukannya bersama-sama,
karena akan menghasilkan kekuatan akibat positif yang jauh lebih besar.
Berlandaskan
pembahasan-pembahasan mengenai karma ini dapat memberikan kita kesadaran untuk
membedakan, serta dapat memberikan kita panduan mengenai cara memodifikasi
[membuatnya menjadi lebih lemah atau lebih kuat] akibat-akibat karma dari
perbuatan dan perkataan kita. Bahkan termasuk disaat kita melakukannya secara
terpaksa atau dengan diliputi keraguan dan kebingungan. Misalnya jika kita
terpaksa harus melukai orang lain, paling tidak berusahalah jangan melukai
orang-orang yang sudah sangat baik pada kita, atau sudah memberikan banyak
manfaat kepada kita, atau memberikan banyak manfaat kepada orang-orang lain di
masa lalu, masa kini dan masa depan. Demikian juga sebaliknya, ketika
keadaan membuat kita harus memilih untuk menolong orang lain, mulailah dengan
menolong mereka yang sudah paling baik pada kita, atau yang paling banyak
memberi manfaat kepada kita, atau paling banyak memberi manfaat kepada
orang-orang lain di masa lalu, masa kini dan masa depan. Semua ini bukanlah sekedar
daftar belaka, tapi sesuatu yang perlu kita upayakan dalam kehidupan
sehari-hari menyangkut perbuatan dan perkataan kita terhadap mahluk lain,
sehingga kita dapat melangkah secara tepat di dalam mengarungi kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar