Sabtu, 31 Desember 2016

Pedoman Dalam Menjalani Kehidupan

Pedoman Dalam Menjalani Kehidupan
Secara umum pedoman dharma mendasar dalam kehidupan ini adalah agar kita berhati-hati dalam perbuatan dan perkataan kita. Hindari menyakiti mahluk lain dan banyak-banyaklah melakukan kebaikan. Hindari memiliki sifat hanya peduli kepada diri sendiri, hanya memandang diri kita sendiri dan tidak peduli pada masalah penting orang lain atau yang dapat berakibat menyakiti mereka. 

Tapi tentu saja karena kehidupan dan keberadaan kita sangat rumit dan kompleks, sehingga kadang-kadang tidak terhindarkan kita terpaksa harus melakukan perbuatan atau perkataan yang berdampak dhukacitta. Berlandaskan pembahasan-pembahasan mengenai karma [dari para Maharsi, para Guru suci dan para Danghyang yang wikan dari berbagai jaman] dapat memberikan kita panduan sangat berharga ketika kita melakukan perbuatan dan perkataan berdampak dhukacitta atau sukhacitta dalam hidup ini, dimana kita mengetahui cara membuatnya menjadi lebih lemah atau lebih kuat.

Misalnya kita berprofesi sebagai petani, ada saat-saat dimana kita terpaksa tidak terhindarkan harus membasmi banyak sekali hama dan serangga yang merusak tanaman. Atau mungkin rumah kita diserbu oleh ratusan kecoa sehingga kita terpaksa harus membasminya.

Berlandaskan pembahasan-pembahasan mengenai karma ini, kita lakukan tanpa rasa marah atau benci, tidak juga dengan rasa riang-gembira, kita lakukan dengan niat atau motif baik [agar kita dapat memberi makan keluarga dan orang lain bisa makan beras atau sayuran, atau dengan tidak ada kecoa agar keluarga kita tidak sakit], kita lakukan tidak terlalu sering, kita lakukan sendirian saja [tidak mengajak orang lain] dan kita lakukan dengan banyak-banyak minta maaf. Yang terakhir adalah kita melakukan upaya memperbaiki dampak dhukacitta yang ditimbulkan dengan mendoakan hama, serangga atau kecoa yang sudah kita basmi, serta kita dengan tekun melaksanakan sadhana-sadhana yang dapat menghapus karma buruk seperti melakukan sadhana penjapaan mantra Ista dewata [mantra yoga] atau melakukan sadhana mandi penyucian [melukat] di pathirtan yang sakral dan dilakukan dengan tata cara melukat yang tepat.

Di Bali kita banyak memiliki tradisi spiritual seperti ini. Misalnya dalam menangani serbuan puluhan ribu hama tikus di sawah. Yang secara tradisi spiritual yang tepat, para petani membasmi tikus tidak dengan rasa marah atau benci, tidak juga dengan rasa riang-gembira, tapi dengan rasa segan kepada sesama mahluk tikus disebut sebagai "Jro Ketut". Dilakukan dengan niat atau motif baik agar penduduk desa tidak mati kelaparan bisa makan beras dan sayuran. Kemudian setelah dibasmi dilakukan upaya memperbaiki dampak dhukacitta yang ditimbulkan, yaitu mengimbanginya dengan tindakan sukhacitta, dengan cara melakukan upacara ngaben [penyeberangan atma] tikus-tikus tersebut. Yang terakhir adalah melakukan upacara penyucian desa dan para petani yang terlibat dalam pembasmian tikus tersebut.  K etika tidak terhindarkan kita terpaksa harus melakukan perbuatan yang berdampak dhukacitta, kita juga dapat melakukan upaya agar dampak akibat karma buruknya menjadi sangat lemah.

Hal yang sama juga berlaku sebaliknya disaat kita melakukan perbuatan atau perkataan yang berdampak sukhacitta, seperti ngayah di pura, menyumbang ke panti asuhan, melakukan puja, melukat, dsb-nya, alangkah baiknya kita mengajak orang-orang lain [yang mau ikut dengan senang hati, bukan terpaksa] untuk melakukannya bersama-sama, karena akan menghasilkan kekuatan akibat positif yang jauh lebih besar.

Berlandaskan pembahasan-pembahasan mengenai karma ini dapat memberikan kita kesadaran untuk membedakan, serta dapat memberikan kita panduan mengenai cara memodifikasi [membuatnya menjadi lebih lemah atau lebih kuat] akibat-akibat karma dari perbuatan dan perkataan kita. Bahkan termasuk disaat kita melakukannya secara terpaksa atau dengan diliputi keraguan dan kebingungan. Misalnya jika kita terpaksa harus melukai orang lain, paling tidak berusahalah jangan melukai orang-orang yang sudah sangat baik pada kita, atau sudah memberikan banyak manfaat kepada kita, atau memberikan banyak manfaat kepada orang-orang lain di masa lalu, masa kini dan masa depan. Demikian juga sebaliknya, ketika keadaan membuat kita harus memilih untuk menolong orang lain, mulailah dengan menolong mereka yang sudah paling baik pada kita, atau yang paling banyak memberi manfaat kepada kita, atau paling banyak memberi manfaat kepada orang-orang lain di masa lalu, masa kini dan masa depan. Semua ini bukanlah sekedar daftar belaka, tapi sesuatu yang perlu kita upayakan dalam kehidupan sehari-hari menyangkut perbuatan dan perkataan kita terhadap mahluk lain, sehingga kita dapat melangkah secara tepat di dalam mengarungi kehidupan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar