PERBEDAAN PESERTA DIDIK
1.
Perbedaan Fisik Motorik
Kecakapan
motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan
koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat (otak) untuk
melakukan kegiatan. Kegiatan ini terjadi karena kegiatan kerja syaraf yang
sistematis. Alat indra menerima rangsangan, rangsangan tersebut diteruskan
melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya
dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan- gerakan
atau kegiatan. Dengan demikian ketepatan kerja jaringan syaraf akan
menghasilkan suatu bentuk kegiatan yang tepat (sesuai antara rangsangan dan
responnya). Kerja ini akan menggambarkan tingkat kecakapan motorik.
Syaraf
pusat (otak) yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berfikir merupakan
faktor penting dalam koordinasi kecakapan motorik. Ketidaktepatan dalam
pembentukan persepsi dan penyampaian perintah akan menyebabkan kekeliruan
respon atau kegiatan yang kurang sesuai dengan tujuan.
Bertambahnya
umur seseorang mengindikasikan adanya kematangan. Hal ini akan menunjukkan
kemampuan yang lebih baik dalam berbagai hal, seperti kekuatan untuk
mempertahankan perhatian, koordinasi otot, kecepatan berpenampilan,
keajegan untuk mengontrol, dan resisten terhadap kelelahan. Sehingga semakin
bertambahnya usia seseorang akan menunjukkan kecakapan motorik yang makin
tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa
kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan fisik dan tingkat kemampuan
berfikir. Karena kematangan fisik dan kemampuan berfikir setiap individu
berbeda sehingga kecakapan motorik setiap individu akan berbeda pula.
2. Perbedaan inteligensi
Inteligensi
adalah salah satu kemampuan mental pikiran atau intelektual dan merupakan
bagian dari proses-proses kognitif pada tingkatan yang lebih tinggi.Secara umum
inteligensi dapat dipahami sebagai kemampuan untuk beadaptasi dengan situasi
yang baru secara cepat dan efektif, kemampuan untuk menggunakan konsep yang
abstrak secara efektif, dan kemampuan untuk memahami hubungan dan
mempelajarinya dengan cepat.
Dalam proses pendidikan di sekolah, inteligensi
diyakini sebagai unusr penting yang sangat menentukan keberhasilan belajar
peserta didik. Namun inteligensi merupakan salah satu asek perbedaan individual
yang perlu dicermati.Setiap peserta didik memiliki inteligensi yang
berlainan.Ada anak yang memiliki inteligensi tinggi, sedang dan rendah. Untuk
mengetahui tinggi rendahnya inteigensi peserta didik, para ahli telah
mengembangkan instrumen yang dikenal dengan “tes inteligensi”, yang kemudian
lebih popular dengan istilah intelligence quotient, disingkat IQ. Berdasarkan
hasil tesi inteligensi ini, peserta didik dapat diklasfikasikan sebagai :
|
Anak Genius
|
IQ di atas 140
|
|
Anak Pintar
|
110-140
|
|
Anak normal
|
90-110
|
|
Anak Kurang Pintar
|
70-90
|
|
Anak Debil
|
50-70
|
|
Anak Dungu
|
30-50
|
|
Anak Idiot
|
IQ di bawah 30
|
3.
Perbedaan Kecakapan Bahasa
Bahasa
adalah salah satu kemampuan individu yang penting sekali dalam kehidupannya.
Kemampuam berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah
pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna, logis, dan
sistematis. Kemampuan berbahasa setiap individu berbeda. Kemampuan ini sangat
dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan termasuk faktor fisik
(organ untuk bicara).
4. Perbedaan
Psikologis
Perbedaan individual peserta
didik juga terlihat dari aspek psikologisnya. Ada anak yang mudah tersenyum,
ada anak yang mudah marah, ada anak yang berjiwa social, ada yang sangat
egositis, ada yang cengeng, ada yang bermalas, ada yang rajin, ada yang
pemurung, dan sebagainya.
Dalam proses pendidikan di
sekolah, perbedaan apek sikologis ini sering menjadi persoalan, terutama aspek
psikologis yang menyangkut masalah minat, motivasi dan perhatian peserta didik
terhadap materi pelajaran yang disajikan guru. Dalam penyajian suatu materi
pelajaran guru sering menghadapi kenyataan betapa tidak semua peserta didik
yang mampu menerapkanya dengan baik. Realitas ini mungkin disebabkan oleh cara
penyampaian guru yang kurang tepat atau menarik, dan mungkin pula disebabkan
oleh faktor psikologis peserta didik kurang memperhatikan. Secara fisik mungkin
terllihat bahwa perhatian peserta didik terarah pada pembicaraan guru.Namun
secara psikologis, pandangan mata atau kondisi tubuh mereka yang terlihat duduk
dengan rapi dan tenang belum dapat dipastikan bahwa mereka memperhatikan semua
penjelasan guru. Bisa saja pandangan mata anak hanya terarah pada gerak, sikap
dan gaya megajar guru, tetapi alam pikiranya terarah pada masalah lain yang
lebih menarik minat dan perhatiannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar