Penyalahgunaan
Teknologi pada Remaja
Remaja adalah generasi penerus umat dan bangsa Indonesia,
banyak hal titipan yang harus mereka ketahui dan banyak hal pula yang harusnya
mereka jaga. Akan tetepi lagi-lagi kata globalisasi menjadi salah satu topik
pada tulisan ini. Tidak bisa dipungkiri teknologi yang kita gunakan sekarang
juga termasuk dalam salah satu konteks yang berhubungan dengan Globalisasi.
Teknologi sangat bermanfaat pada zaman ini yang bisa membuat pekerjaan kita
menjadi mudah.
Teknologi pada zaman ini sudah
sangat berkembang. Dengan adanya laptop, handphone, smartphone dll, kita dapat
melakukan apa yang seharusnya kita tidak bisa kita lakukan. Mulai dari membaca,
menulis sampai berhubungan jarak jauh. Samua itu adalah hal-hal yang berbau
positif, tetapi tetap perlu diingat bahwa dampak teknologi bagi remaja juga
sangat buruk. Menggunakan teknologi yang tidak sesuai dengan manfaat yang
sebenarnya adalah salah satu contoh rusaknya moral remaja pada zaman sekarang.
Mulai banyak kejadian dan fitur dari teknologi yang merusak moral anak bangsa,
mulai dari mengakses video p*rno, sampai yang hanya call messange tapi sangat
fatal yaitu ph*nes*ks.
Apakah ini yang kita harapkan dari generasi muda yang kerjanya menggunakan
teknologi untuk kebutuhan tersebut. Padahal mereka seharusnya bisa menggunakan
teknologi ini dengan hal-hal yang baik atau sesuatu yang positif. Mereka yang
awalnya polos menjadi penuh dengan nafsu karena perkembangan teknologi. Situasi
ini juga banyak menyebabkan banyak kejadian kriminal, kita ambil saja contoh
yang biasa dimuat dikoran-koran yaitu pemerk*saan. Saat mereka tau hanya dari
gambar dan video akhirnya mereka ingin mencoba itu dan terjadilah suatu
tindakan kriminal tersebut. Akankah mereka tidak takut akan siksa Allah SWT
yang akan diberikan setelah mereka melakukan perbuatan tersebut. Semoga saja
saudara saudara kita tidak termasuk menjadi remaja yang melakukan perbuatan
tersebut.
Permasalahan ini mungkin bisa kita
cari solusinya bersama, berikut solusi dari saya dengan penggabungan pendapat
yang biasa kemukakan masyarakat. Solusi yang pertama tetap pengaruh keluarga
lebih penting. Kata orang sih orang tua harus terus memantau bagaimana mereka
menggunakan teknologi, seperti mengecek smartphone, laptop atau barang barang
lainnya. Akan tetapi apakah cukup kita pantau saja, menurut saya kita juga
harus memberikan batasan akses mereka terhadap barang yang mereka gunakan.
Misalnya kita memberikan jatah waktu yang mereka gunakan untuk menggunakan
barang-barang tersebut, 1 – 5 jam sudah cukuplah dalam sehari. Agar mereka
tidak kecanduan barang-barang tersebut, sehingga mereka tidak selalu tergantung
pada barang-barang tersebut. Solusi yang kedua tetap tertuju kepada instansi
pendidikan yang pendidiknya bisa dibilang adalah orang tua kedua setelah orang
tua kandung kita. Razia-razia pengecekan media electronik tetap harus
dilaksanakan jika instansi tersebut memperbolehkan menggunakan barang-barang electronik.
Agar para remaja tetap terkendali dalam moralnya. Permasalahan yang biasa
terjadi adalah terkadang murid itu lebih pintar dari pada gurunya. Akan tetapi
kita juga tidak boleh lupa bahwa sepandai-pandainya mereka menyembunyikan maka
para guru harus lebih pandai untuk menemukannya. Permasalahan yang lain adalah
saat peserta didik ini meminta ijin kepada orang tua jika mereka pulang
terlambat atau pulang lebih cepat. Seorang guru harus dekat dengan peserta
didiknya, mereka seharusnya sangat akrab sehingga saat permasalahan yang baru
saya sebutkan tadi mereka bisa menghubungi guru untuk membantu mereka dalam
memberikan info terhadap orang tuanya. Solusi yang ketiga adalah peran
masyarakat, diadakannya pengajian rutin khusus untuk remaja juga perlu. Bukan
hanya pengajian untuk para orang dewasa, tetapi para remaja. Ini adalah salah
satu solusi untuk memberikan pendidikan dini pada mereka. Sama seperti
kegunaan khutbah jum’at yang digunakan untuk mengingatkan para kaum muslim
untuk tetap beribadah kepada Allah yang dilakukan setiap minggunya. Karena
tidak bisa dipungkiri bahwa jika mereka hanya mendapatkan sesuatu yang hanya
sekali dua kali maka mereka akan lupa. Akan tetapi jika terus memberikan
pengajian kepada mereka secara rutin insyaallah mereka akan tetap ingat kepada
Allah SWT dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Sekian dan Terima
Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar