Sabtu, 31 Desember 2016

MENANAMKAN DISIPLIN PADA ANAK

MENANAMKAN DISIPLIN PADA ANAK
Apakah disiplin itu? Disiplin pada anak terlihat bilamana pada anak ada pengertian-pengertian mengenai batas-batas kebebasan dari perbuatan-perbuatan yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Disiplin ini ditanamkan oleh orangtua sedikit demi sedikit. Kadang-kadang diperlukan sikap dan tindakan otoriter agar anak mengerti dan bisa mengembangkan dengan sendirinya hal-hal yang diperlukan untuk bisa mengurus diri sendiri (self governing) dan menyesuaikan diri dengan tata cara kehidupan yakni norma-norma dan nilai-nilai yang ada. Elizabeth B. Hurlock menerangkan disiplin sebagai suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan. Seseorang dikatakan telah berhasil mempelajari kalau ia bisa mengikuti dengan sendirinya tokoh-tokoh yang telah mengajarkan sesuatu yaitu orangtua atau guru-guru. Apa yang dipelajari akan mengarahkan kehidupannya agar bisa bermanfaat bagi dirinya maupun masyarakat dan menimbulkan perasaan bahagia dan sejahtera.
Mendisiplin anak bukanlah bertujuan agar anak menjadi seorang yang penurut, meskipun bisa saja pada permulaan memperkenalkan atau menanamkan disiplin diperlukan sikap otoriter supaya anak menurut, lambat laun apa yang ditanamkan atau ditumbuhkan itu harus menjadi dari tingkahlakunya sehari-hari.
Cara menanamkan disiplin
1. Cara otoriter
Pada cara ini orangtua menentukan aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus dita’ati oleh anak. Anak harus patuh dan tunduk dan tidak ada pilihan lain yang sesuai dengan kemauan atau pendapatnya sendiri. Kalau anak tidak memenuhi tuntutan orangtua, ia akan diancam dan dihukum. Orangtua memerintah dan memaksa tanpa kompromi.
Dengan cara otoriter, ditambah dengan sikap keras, menghukum, mengancam akan menjadikan anak “patuh” dihadapan orangtua, tetapi dibelakangnya ia akan memperhatikan reaksi-reaksi misalnya menentang atau melawan karena anak merasa “dipaksa”. Reaksi menentang dan melawan bisa ditampilkan dalam tingkahlaku-tingkahlaku yang melanggar norma-norma dan yang menimbulkan persoalan dan kesulitan baik pada dirinya maupun lingkungan rumah, sekolah dan pergaulannya. Cara otoriter memang bisa diterapkan pada permulaan usaha menanamkan disiplin, tetapi hanya bisa pada hal-hal tertentu atau ketika sianak berada dalam tahap perkembangan dini yang masih sulit menyerap pengertian-pengertian. Cara otoriter masih bisa dilakukan asal memperhatikan bahwa dengan cara tersebut anak merasa terhindar, aman dan tidak menyebabkan anak ketakutan, kecewa, menderita sakit karena dihukum secara fisik. Cara otoriter menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak.
2. Cara bebas
Orangtua membiarkan anak mencari dan menemukan sendiri tatacara yang memberi batasan-batasan dari tingkahlakunya. Pada hal-hal yang dianggapnya sudah “keterlaluan” orangtua baru bertindak. Pada cara bebas ini (1) pengawasan menjadi longgar. (2) anak telah terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggapnya baik. (3) pada umumnya keadaan seperti ini terdapat pada keluarga-keluarga yang kedua orangtuanya bekerja, terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak dalam arti yang sebaik-baiknya. (4) Orangtua merasa sudah mempercayakan masalah pendidikan anak kepada orang lain yang bisa mengasuh khusus atau bisa pula anggota keluarga yang tinggal dirumah. (5) orangtua hanya bertindak sebagai “polisi” yang mengawasi, menegor dan mungkin memarahi. (6) orangtua tidak biasa bergaul dengan anak, hubungan tidak akrab dan merasa bahwa anak harus tahu sendiri. (7) perkembangan kepribadiannya menjadi tidak terarah. (8) pada anak tumbuh keakuan (egocentrisme) yang terlalu kuat dan kaku dan mudah menimbulkan kesulitan-kesulitan kalau harus menghadapi larangan-larangan yang ada dalam lingkungan sosialnya.
3. Cara demokratis
Cara ini memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan yang tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara kedua belah pihak, anak dan orangtua. Cara demokratis pada anak tumbuh rasa tanggungjawab untuk memperlihatkan sesuatu tingkahlaku dan selanjutnya memupuk kepercayaan dirinya. Ia mampu bertindak sesuai dengan norma dan kebebasan yang ada pada dirinya untuk memperoleh kepuasan dan menyesuaikan diri dan kalau tingkahlakunya tidak berkenan bagi orang lain ia mampu menunda dan menghargai tuntutan pada lingkungannya sebagai sesuatu yang memang bisa berbeda dengan norma pribadinya. Dalam usaha orangtua menanamkan disiplin pada anak, cara demokratis memang paling ideal.
Teori E. Erikson, cara-cara penanaman disiplin setahap demi setahap adalah sebagai berikut:
1. Anak berusia 1½ - 3 tahun
Anak-anak pada umur ini mulai merasakan adanya kebebasan. Pertumbuhan fisik anak pada masa ini memungkinkan melakukan gerak – gerik, berjalan dan berlari dengan bebas. Anak merasa bebas dan ingin melakukan sendiri karena memang sudah bisa. Ia mulai bisa melatih diri, mencoba kemampuan dan kemauannya.
Pada masa ini orangtua harus memulai usaha-usaha aktif untuk membimbing dan mengarahkan tingkahlaku anak secara bertahap yang memberikan kepuasan dan perasaan bebas tetapi aman. Keberhasilan usaha orangtua untuk memulai menanamkan disiplin sering ditandai dengan keberhasilannya melatih menguasai otot-otot pelepasannya untuk membuang air seni dan kotorannya.
2. Anak usia 3 – 5 tahun
Anak bisa melepaskan diri secara bebas dari lingkungan hidup orangtua dan mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Tidak lagi tergantung, melainkan sudah mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu. Ia mulai mengetahui kemampuan dan keterbatasannya dan bisa berkhayal mengenai apa yang akan dilakukan. Ia bisa mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan, meskipun seringkali apa yang dilakukan tidak berkenan bagi orangtuanya.
Anak menyenangi hal-hal yang baru yang menarik dan sudah mampu “bekerjasama” dengan orang dewasa. Orangtua perlu membiarkn tingkahlaku anak yang masih dalam batas-batas dapat di terima atau yang sesuai dengan dasar yang ada dan ditentukan oleh orangtua. Di pihak lain orangtua perlu menunjukkan dan mencegah perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan, yang salah, sehingga si anak mengetahui dan tidak melakukan lagi.
3. Anak usia 5 – 7 tahun
Anak-anak pada masa ini akan melakukan apa yang diingini dan dikuasai oleh dorongan-dorongan dari dalam. Anak mulai menyadari bahwa tingkah lakunya tidak boleh mendasarkan pada dorongan-dorongan dalamnya, melainkan harus menyesuaikan terhadap keinginan dan tuntutan dari lingkungannya. Ia mulai bisa mengikuti aturan permainan, menunjukkan tumbuhnya pengertian akan batasan-batasan yang harus diikuti dan tidak lagi bertindak semata-mata mendasarkan pada keinginan dan kepuasan saja. Anak mulai memperkembangkan disiplin diri dan menyadari bahwa tingkahlaku yang sesuai dengan norma lingkungannya harus sering dilakukan karena hal itu akan menyenangkan orang lain dan dirinya sendiri. Orangtua secara bertahap harus melatih anak agar bisa menguasai diri dan mau menerima perintah-perintah, anjuran-anjuran atau bahkan tuntutan dari orangtua.
Anak-anak pada umur ini (biasanya sudah sekolah di TK atau SD) banyak dipengaruhi oleh norma-norma dan aturan-aturan dari luar. Meluasnya hubungan-hubungan sosial dengan anak-anak di luar rumah akan mulai berpengaruh. Anak membandingkan antara norma rumah dan norma lingkungan sosialnya dan bisa menimbulkan konflik antara kesenangan dan ketakutan atau antara dorongan kenikmatan dan penguasaan diri. Orangtua hendaknya mulai banyak mempergunakan teknik demokratis dan “non-power assertive technique” untuk menanamkan disiplin. Menerangkan sesuatu sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya yang berada pada masa pra-operasional. Piaget) perlu dilakukan disamping usaha-usaha aktif untuk menunjukkan dan kalau perlu memberi contoh bagaimana bersikap yang baik dan bertingkahlaku yang benar.
4. Anak usia 7 – 12 tahun
a. Pengaruh lingkungan menjadi lebih luas, teman-teman bertambah
b. Disiplin disekolah lebih ketat dari pada sebelumnya ketika di TK, tetapi di luar sekolah sulit untuk diawasi terus menerus.
c. Anak harus memahami alasan-alasan sesuatu perbuatan dilarang dan tidak boleh dilakukan.
d. Orangtua harus menjelaskan alasan-alasan sesuatu perbuatan yang dilarang dengan mengajak memikirkan bersama
e. Orangtua harus mengulang-ulang kalau pada anak masih belum bisa menguasai diri, disamping memperlihatkan contoh-contoh untuk dijadikan model dari tingkahlaku yang diharapkn.
f. Mengingatkan sesuatu perbuatan yang salah tanpa tekanan dan emosi sambil menunjukkan apa yang sebaiknya dilakukan akan sangat banyak manfaatnya dalam menghadapi anak pada masa perkembangan ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar