MENANAMKAN DISIPLIN PADA ANAK
Apakah
disiplin itu? Disiplin pada anak terlihat bilamana pada anak ada
pengertian-pengertian mengenai batas-batas kebebasan dari perbuatan-perbuatan
yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Disiplin ini ditanamkan oleh orangtua
sedikit demi sedikit. Kadang-kadang diperlukan sikap dan tindakan otoriter agar
anak mengerti dan bisa mengembangkan dengan sendirinya hal-hal yang diperlukan
untuk bisa mengurus diri sendiri (self governing) dan menyesuaikan diri dengan
tata cara kehidupan yakni norma-norma dan nilai-nilai yang ada. Elizabeth B.
Hurlock menerangkan disiplin sebagai suatu proses dari latihan atau belajar
yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan. Seseorang dikatakan
telah berhasil mempelajari kalau ia bisa mengikuti dengan sendirinya
tokoh-tokoh yang telah mengajarkan sesuatu yaitu orangtua atau guru-guru. Apa
yang dipelajari akan mengarahkan kehidupannya agar bisa bermanfaat bagi dirinya
maupun masyarakat dan menimbulkan perasaan bahagia dan sejahtera.
Mendisiplin anak bukanlah bertujuan agar anak
menjadi seorang yang penurut, meskipun bisa saja pada permulaan memperkenalkan
atau menanamkan disiplin diperlukan sikap otoriter supaya anak menurut, lambat
laun apa yang ditanamkan atau ditumbuhkan itu harus menjadi dari tingkahlakunya
sehari-hari.
Cara menanamkan disiplin
1. Cara otoriter
Pada cara ini orangtua menentukan
aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus dita’ati oleh anak. Anak
harus patuh dan tunduk dan tidak ada pilihan lain yang sesuai dengan kemauan
atau pendapatnya sendiri. Kalau anak tidak memenuhi tuntutan orangtua, ia akan
diancam dan dihukum. Orangtua memerintah dan memaksa tanpa kompromi.
Dengan cara otoriter, ditambah dengan sikap
keras, menghukum, mengancam akan menjadikan anak “patuh” dihadapan orangtua,
tetapi dibelakangnya ia akan memperhatikan reaksi-reaksi misalnya menentang
atau melawan karena anak merasa “dipaksa”. Reaksi menentang dan melawan bisa
ditampilkan dalam tingkahlaku-tingkahlaku yang melanggar norma-norma dan yang
menimbulkan persoalan dan kesulitan baik pada dirinya maupun lingkungan rumah,
sekolah dan pergaulannya. Cara otoriter memang bisa diterapkan pada permulaan
usaha menanamkan disiplin, tetapi hanya bisa pada hal-hal tertentu atau ketika
sianak berada dalam tahap perkembangan dini yang masih sulit menyerap
pengertian-pengertian. Cara otoriter masih bisa dilakukan asal memperhatikan
bahwa dengan cara tersebut anak merasa terhindar, aman dan tidak menyebabkan
anak ketakutan, kecewa, menderita sakit karena dihukum secara fisik. Cara
otoriter menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak.
2. Cara bebas
Orangtua membiarkan anak mencari dan menemukan
sendiri tatacara yang memberi batasan-batasan dari tingkahlakunya. Pada hal-hal
yang dianggapnya sudah “keterlaluan” orangtua baru bertindak. Pada cara bebas
ini (1) pengawasan menjadi longgar. (2) anak telah terbiasa mengatur dan
menentukan sendiri apa yang dianggapnya baik. (3) pada umumnya keadaan seperti
ini terdapat pada keluarga-keluarga yang kedua orangtuanya bekerja, terlalu
sibuk dengan berbagai kegiatan sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak
dalam arti yang sebaik-baiknya. (4) Orangtua merasa sudah mempercayakan masalah
pendidikan anak kepada orang lain yang bisa mengasuh khusus atau bisa pula anggota
keluarga yang tinggal dirumah. (5) orangtua hanya bertindak sebagai “polisi”
yang mengawasi, menegor dan mungkin memarahi. (6) orangtua tidak biasa bergaul
dengan anak, hubungan tidak akrab dan merasa bahwa anak harus tahu sendiri. (7)
perkembangan kepribadiannya menjadi tidak terarah. (8) pada anak tumbuh keakuan
(egocentrisme) yang terlalu kuat dan kaku dan mudah menimbulkan
kesulitan-kesulitan kalau harus menghadapi larangan-larangan yang ada dalam
lingkungan sosialnya.
3. Cara demokratis
Cara ini memperhatikan dan menghargai
kebebasan anak, namun kebebasan yang tidak mutlak dan dengan bimbingan yang
penuh pengertian antara kedua belah pihak, anak dan orangtua. Cara demokratis
pada anak tumbuh rasa tanggungjawab untuk memperlihatkan sesuatu tingkahlaku
dan selanjutnya memupuk kepercayaan dirinya. Ia mampu bertindak sesuai dengan
norma dan kebebasan yang ada pada dirinya untuk memperoleh kepuasan dan
menyesuaikan diri dan kalau tingkahlakunya tidak berkenan bagi orang lain ia
mampu menunda dan menghargai tuntutan pada lingkungannya sebagai sesuatu yang
memang bisa berbeda dengan norma pribadinya. Dalam usaha orangtua menanamkan
disiplin pada anak, cara demokratis memang paling ideal.
Teori E. Erikson, cara-cara penanaman disiplin
setahap demi setahap adalah sebagai berikut:
1. Anak berusia 1½ - 3 tahun
Anak-anak pada umur
ini mulai merasakan adanya kebebasan. Pertumbuhan fisik anak pada masa ini
memungkinkan melakukan gerak – gerik, berjalan dan berlari dengan bebas. Anak
merasa bebas dan ingin melakukan sendiri karena memang sudah bisa. Ia mulai
bisa melatih diri, mencoba kemampuan dan kemauannya.
Pada masa ini orangtua
harus memulai usaha-usaha aktif untuk membimbing dan mengarahkan tingkahlaku
anak secara bertahap yang memberikan kepuasan dan perasaan bebas tetapi aman.
Keberhasilan usaha orangtua untuk memulai menanamkan disiplin sering ditandai
dengan keberhasilannya melatih menguasai otot-otot pelepasannya untuk membuang
air seni dan kotorannya.
2. Anak usia 3 – 5 tahun
Anak bisa melepaskan
diri secara bebas dari lingkungan hidup orangtua dan mengadakan interaksi
dengan lingkungannya. Tidak lagi tergantung, melainkan sudah mempunyai
inisiatif untuk melakukan sesuatu. Ia mulai mengetahui kemampuan dan
keterbatasannya dan bisa berkhayal mengenai apa yang akan dilakukan. Ia bisa
mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan, meskipun
seringkali apa yang dilakukan tidak berkenan bagi orangtuanya.
Anak menyenangi
hal-hal yang baru yang menarik dan sudah mampu “bekerjasama” dengan orang
dewasa. Orangtua perlu membiarkn tingkahlaku anak yang masih dalam batas-batas
dapat di terima atau yang sesuai dengan dasar yang ada dan ditentukan oleh
orangtua. Di pihak lain orangtua perlu menunjukkan dan mencegah
perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan, yang salah, sehingga si anak
mengetahui dan tidak melakukan lagi.
3. Anak usia 5 – 7 tahun
Anak-anak pada masa
ini akan melakukan apa yang diingini dan dikuasai oleh dorongan-dorongan dari
dalam. Anak mulai menyadari bahwa tingkah lakunya tidak boleh mendasarkan pada
dorongan-dorongan dalamnya, melainkan harus menyesuaikan terhadap keinginan dan
tuntutan dari lingkungannya. Ia mulai bisa mengikuti aturan permainan,
menunjukkan tumbuhnya pengertian akan batasan-batasan yang harus diikuti dan
tidak lagi bertindak semata-mata mendasarkan pada keinginan dan kepuasan saja.
Anak mulai memperkembangkan disiplin diri dan menyadari bahwa tingkahlaku yang
sesuai dengan norma lingkungannya harus sering dilakukan karena hal itu akan
menyenangkan orang lain dan dirinya sendiri. Orangtua secara bertahap harus
melatih anak agar bisa menguasai diri dan mau menerima perintah-perintah,
anjuran-anjuran atau bahkan tuntutan dari orangtua.
Anak-anak pada umur
ini (biasanya sudah sekolah di TK atau SD) banyak dipengaruhi oleh norma-norma
dan aturan-aturan dari luar. Meluasnya hubungan-hubungan sosial dengan
anak-anak di luar rumah akan mulai berpengaruh. Anak membandingkan antara norma
rumah dan norma lingkungan sosialnya dan bisa menimbulkan konflik antara
kesenangan dan ketakutan atau antara dorongan kenikmatan dan penguasaan diri.
Orangtua hendaknya mulai banyak mempergunakan teknik demokratis dan “non-power
assertive technique” untuk menanamkan disiplin. Menerangkan sesuatu sesuai
dengan tahap perkembangan kognitifnya yang berada pada masa pra-operasional.
Piaget) perlu dilakukan disamping usaha-usaha aktif untuk menunjukkan dan kalau
perlu memberi contoh bagaimana bersikap yang baik dan bertingkahlaku yang
benar.
4. Anak usia 7 – 12 tahun
a. Pengaruh
lingkungan menjadi lebih luas, teman-teman bertambah
b. Disiplin
disekolah lebih ketat dari pada sebelumnya ketika di TK, tetapi di luar sekolah
sulit untuk diawasi terus menerus.
c. Anak
harus memahami alasan-alasan sesuatu perbuatan dilarang dan tidak boleh
dilakukan.
d. Orangtua
harus menjelaskan alasan-alasan sesuatu perbuatan yang dilarang dengan mengajak
memikirkan bersama
e. Orangtua
harus mengulang-ulang kalau pada anak masih belum bisa menguasai diri,
disamping memperlihatkan contoh-contoh untuk dijadikan model dari tingkahlaku yang
diharapkn.
f. Mengingatkan
sesuatu perbuatan yang salah tanpa tekanan dan emosi sambil menunjukkan apa
yang sebaiknya dilakukan akan sangat banyak manfaatnya dalam menghadapi anak
pada masa perkembangan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar