Panduan Hukum
Karma Dalam Kehidupan
Dalam hidup
ini manusia itu swatantra katah, artinya manusia itu bebas melakukan perbuatan
atau perkataan apa saja. Tapi manusia tidak akan dapat bebas dari akibatnya
karena adanya hukum karma di alam semesta ini. Hukum karma adalah hukum besi
yang berlaku pasti di alam semesta ini, hukum alam yang tidak bisa dibendung,
yaitu apapun perbuatan atau perkataan kita secara pasti akan direspon balik
oleh alam semesta menjadi akibat. Ini berarti bahwa segala bentuk kebahagiaan
atau kesengsaraan yang kita alami dalam hidup ini sesungguhnya semua berasal
dari perbuatan atau perkataan kita sendiri di masa waktu sebelumnya. Para
Maharsi, para Guru suci dan para Danghyang yang wikan dari berbagai jaman,
telah melakukan penelitian dan penembusan niskala dengan sangat hati-hati,
teliti dan mendetail mengenai hukum karma. Darisana dapat diketahui bahwa hukum
karma itu sangat rumit dan kompleks, sehingga ketika kita membicarakan hukum
karma akan terlihat seperti pembahasan-pembahasan yang sangat panjang, yang
mungkin agak ribet untuk dikenali satu-persatu. Tapi bagaimanapun juga
pembahasan-pembahasan ini memberikan kita petunjuk sangat berharga sebagai
panduan ketika kita melakukan perbuatan atau perkataan dalam hidup ini. Agar
pembahasan-pembahasan ini tidak terlalu panjang,maka disini akan dipaparkan
mengenai pembahasan-pembahasan hukum karma secara ringkas saja, tapi dengan
sasaran langsung ke dalam pokok-pokoknya yang terpenting.
Lima Kepastian Hukum Karma
Ada lima kepastian dari hukum sebab-akibat semesta, atau
hukum karma, yaitu :
1. Semua sebab akan menghasilkan
akibat.
Jika kita mengalami kesengsaraan
[misalnya jatuh sakit, ban motor pecah di jalan, kecurian, kecelakaan, kena
tipu, dsb-nya], hal itu pasti merupakan akibat dari karma-karma buruk kita di
masa waktu sebelumnya. Sebaliknya jika kita mengalami kebahagiaan, hal itu
pasti merupakan akibat dari karma-karma baik kita di masa waktu sebelumnya.
Kaitan erat antara perbuatan atau perkataan kita, yang kelak akan menghasilkan
kesengsaraan atau kebahagiaan, sangat penting untuk dipahami sebagai hukum yang
bekerja di alam semesta ini.
2. Semua akibat berasal dari
sebab.
Jika kita tidak melakukan suatu
perbuatan atau perkataan tertentu, kita tidak akan mengalami akibat-akibatnya.
Misalnya ada sebuah kecelakaan bis dimana banyak orang yang tewas, tapi ada
juga beberapa orang yang bisa selamat. Ini disebabkan karena mereka tidak
melakukan sebab-sebab yang memungkinkan mereka tewas dalam kecelakaan itu, jadi
mereka tidak mengalami akibat-akibatnya.
3. Adanya kepastian akibat.
Jika kita melakukan suatu
perbuatan atau perkataan tertentu, akibat karmanya tidak akan lenyap dengan
sendirinya. Pada suatu waktu karma itu pasti akan datang. Mungkin saja perlu
waktu 100.000 [seratus ribu] tahun, tapi karma itu pasti tetap akan datang.
4. Adanya peningkatan dari
akibat.
Karma itu dapat berdampak
berantai. Dari perbuatan atau perkataan kecil, kemudian akibat-akibat yang
sangat besar dapat muncul. Misalnya kita berkata atau bertindak kasar pada
pasangan kita, kemudian kita tidak bicara satu sama lain. Semakin lama kita
membiarkannya tanpa mencoba menyelesaikan masalahnya, maka semakin besar
kemarahan terasa dan semakin sulit atau rumit masalahnya dapat diselesaikan.
Selain itu, akibat karma tidak
selalu terjadi seperti laju sebuah garis lurus. Berbagai perbuatan atau
perkataan dapat berakibat sekaligus pada satu hal saja. Demikian juga
sebaliknya, satu perbuatan atau perkataan dapat berakibat banyak hal pada
berkali-kali masa kehidupan. Misalnya kita memfitnah seorang Guru suci yang
asli, atau pembawa ajaran dharma yang asli [ajaran dharma yang sesuai dengan
kenyataan kosmik], maka akibatnya selama berkali-kali masa kehidupan kita akan
tenggelam dalam kegelapan avidya.
5. Karma buruk bisa dihapuskan.
Jika kita melakukan suatu
perbuatan atau perkataan yang berdampak dhukacitta [merugikan, menyengsarakan
atau menyakiti mahluk lain], pada suatu waktu karma itu pasti akan datang.
Karena dalam hukum karma, semua sebab akan menghasilkan akibat dan akibat itu
suatu saat pasti akan datang. Kecuali jika kita tekun melaksanakan sadhana-sadhana
yang dapat menghapus karma buruk.
Jika kita mengalami kesengsaraan
[misalnya jatuh sakit, ban motor pecah di jalan, kecurian, kecelakaan, kena
tipu, dsb-nya], sudah pasti hal itu merupakan akibat dari karma-karma buruk
kita di masa waktu sebelumnya. Tapi ini tidak berarti bahwa jika di masa waktu
sebelumnya kita pernah melakukan perbuatan atau perkataan yang berdampak
dhukacitta, maka kemudian semuanya akan menghasilkan akibat kesengsaraan. Tidak
selalu. Karena karma-karma buruk dapat dihapuskan melalui ketekunan kita
melaksanakan sadhana-sadhana yang dapat menghapus karma buruk.
Jika kita telah tekun menahan
diri dari melakukan kejahatan dan banyak melakukan kebaikan-kebaikan, serta
kita sangat tekun melakukan sadhana-sadhana yang dapat menghapus karma buruk,
maka sesungguhnya tidak ada lagi bahaya yang harus kita takutkan. Bahkan jika
kita pergi ke suatu tempat penuh bahaya, dengan banyak penjahat kejam
berkeliaran di sana, kita tidak akan mengalami perampokan, karena karma-karma
buruk kita sebagai penyebab yang memungkinkan kita dirampok telah terhapuskan.
Karma tidaklah bersifat statis
atau mutlak tidak berubah, tapi bersifat dinamis. Tidak ada sesuatu yang kekal
di alam semesta ini, semuanya ada dalam gerak dinamis yang selalu berubah, termasuk
karma. Sehingga karma setiap mahluk juga berubah-ubah, yang semata-mata
ditentukan oleh apa pilihan perkataan dan perbuatan kita masing-masing.
Karma adalah hukum sebab dan
akibat. Sebab dan akibat berarti setiap pengalaman bahagia dan sengsara yang
kita alami dalam kehidupan pasti ada sebabnya. Jika sebabnya diringankan maka
ringan juga akibatnya. Jika sebabnya dapat diatasi [dihapuskan] dengan melaksanakan
sadhana-sadhana yang dapat menghapus karma buruk, maka akibatnya-pun juga akan
lenyap. Kebahagiaan dapat dihadirkan dan penderitaan juga dapat dihindari, jika
kita merubah sebab-sebabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar