Sabtu, 31 Desember 2016

ERKEMBANGAN ASPEK MORAL DAN SOSIAL PADA ANAK

ERKEMBANGAN ASPEK MORAL DAN SOSIAL PADA ANAK
Pada hakekatnya, para orang tua mempunyai harapan agar anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, tahu membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik, tidak mudah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun merugikan orang lain. Harapan-harapan ini kiranya akan lebih mudah terwujud apabila sejak semula, orang tua telah menyadari akan peranan mereka sebagai orangtua yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan moral anak.
Seorang anak kecil sulit diharapkan untuk dengan sendirinya bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku, mengerti apa yang dituntut lingkungan terhadap dirinya, dan sebagainya. Aspek moral seorang anak merupakan sesuatu yang berkembang dan diperkembangkan. Artinya, bagiaman akan itu kelak akan bertingkahlaku sesuai atau tidak sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku, semua itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan anak yang ikut memperkembangkan secara langsung ataupun tak langsung, aspek moral ini. Karena itu faktor lingkungan besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan moral anak, namun karena lingkungan pertama yang dikenal anak dalam kehidupannya adalah orang tuanya, maka peranan orangtualah yang dirasa paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan moral anak, disamping pengaruh lingkungan lainnya seperti sekolah dan masyarakat.
Pengertian moralitas dan perkembangannya pada seorang anak
Istilah moral berasal dari kata latin: MOS (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, tata cara kehidupan. Sedangkan pengertian moralitas berhubungan dengan keadaan nilai-nilai moral yang berlaku dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat. Jadi suatu tingkahlaku dikatakan bermoral apabila tingkah laku itu sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kelompok sosial di mana anak itu hidup. Nilai-nilai moral ini tidak sama pada semua masyarakat, umumnya nilai-nilai moral ini dipenuhi oleh kebudayaan dari kelompok atau masyarakat itu sendiri. Apa yang dianggap baik oleh suatu kelompok atau masyarakat lainnya. Tetapi apa yang oleh suatu kelompok dianggap tidak baik namun dilakukan juga oleh seseorang dalam kelompok tersebut, maka tingkahlaku orang tersebut dikatakan tidak bermoral. Pada awal kehidupan seorang bayi, kita tidak dapat menilai tingkah lakunya sebagai bermoral atau tidak bermoral. Pada hakekatnya, seorang anak atau bayi belum bermoral, artinya ia belum memiliki pengetahuan dan pengertian akan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial dimana ia hidup.
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Tanpa masyarakat (lingkungan), kepribadian seorang individu tidak dapat berkembang; nilai-nilai moral yang dimiliki seorang anak lebih merupakan sesuatu yang diperoleh anak dari luar. Anak belajar dan diajar oleh lingkungannya mengenai bagaimana yang dikatakan salah atau tidak baik. Lingkungan ini berarti orang tua, saudara-saudara, teman-teman, guru-guru dan sebagainya. Pada tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak, sepenuhnya bergantung pada orang lain, yaitu orangtuanya, maka di sinilah pentingnya peranan orang tua sebagai orang pertama yang dikenal anak dalam hidupnya untuk memperkembangkan kehidupan moral anaknya. Anak terutama akan belajar dari orangtuanya bagaimana ia harus bersikap terhadap orang lain, tingkahlaku-tingkahlaku apa yang baik untuk dilakukan atau yang harus dihindari. Namun tidak berarti apabila seorang anak menunjukkan tingkahlaku yang tidak bermoral, hal itu disebabkan karena orangtuanya. Faktor individual dan lingkungan lainnya di sekitar kehidupan si anak, dapat pula mempengaruhi perkembangan tingkahlaku tersebut. Dapat dikatakan bahwa orangtua bukanlah satu-satunya faktor penentu bagi perkembangan moral anak, namun orang tua dapat mengarahkan perkembangan moral anak sejauh mungkin, dengan menyadari akan peranannya yang besar dalam kehidupan anak.
Adapun beberapa sikap orangtua yang perlu mendapat perhatian, guna perkembangan moral anaknya adalah:
1. Konsistensi dalam mendidik dan mengajar anak-anak.
Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh orangtua pada suatu waktu, harus pula dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu yang lain. Harus ada konsistensi dalam hal apa-apa yang mendatangkan pujian atau hukuman pada anak. Juga antara ayah dan ibu harus ada kesesuaian dalam melarang atau memperbolehkan tingkah-tingkah laku tertentu pada anak. Tidak adanya konsistensi akan mengaburkan pengertian anak tentang apa yang baik dilakukan atau yang tidak baik untuk dilakukan.
2. Sikap orang tua dalam keluarga
Bagaimana sikap ayah terhadap ibu atau sikap ibu terhadap ayah, bagaimana sikap orantua terhadap saudara-saudaranya, dan lainnya. Sikap-sikap ini dapat berpengaruh pula terhadap perkembangan moral anak secara tidak langsung, yaitu melalui proses peniruan. Anak meniru sikap dari orang-orang yang paling dekat dengan dirinya dan yang ditemuinya setiap hari.
3. Penghayatan orangtua akan agama yang dianutnya
Orangtua yang sungguh-sungguh menghayati kepercayaannya kepada Tuhan, akan mempengaruhi sikap dan tindakan mereka sehari-hari. Hal ini akan berpengaruh pula terhadap cara-cara orangtua mengasuh, memelihara, mengajar dan mendidik anak-anaknya. Anak yang banyak dibekali dengan ajaran-ajaran agama, hidup dalam kepercayaan dan kesetiaan kepada Tuhan; semua itu dapat menjadi dasar yang kuat untuk perkembangan moral anak serta keseluruhan kehidupannya di kemudian hari.
4. Sikap konsekuen dari orangtua dalam mendisiplin anaknya
Orangtua perlu menjaga sikapnya. Adanya ketidak sesuaian antara apa yang diajarkan atau dituntut orangtua terhadap anaknya, dengan apa yang dilihat anak sendiri dari kehidupan orangtuanya, dapat menimbulkan konflik dalam diri si anak dan anak dapat menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk tidak melakukan apa yang diajarkan orangtuanya.
Dengan kata lain orantua berperan besar dalam mengajar, mendidik serta memberi contoh atau teladan kepada anak-anaknya mengenai tingkahlaku apa yang baik, yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku, ataupun tingkah-tingkah laku yang tidak baik dan perlu dihindari. Dalam perkembangannya, anak perlu dibimbing untuk mengetahui, mengenal, mengerti dan akhirnya dapat menerapkan sendiri tingkahlaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral serta tingkahlaku yang perlu dihindari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar