MASALAH ANAK BROKEN
HOME
Anak broken home adalah anak
yang hasil kegagalan rumah tangga atau seorang anak yang memiliki
keluarga tidak harmonis. pada perkembangan anak tergantung pada berbagai
faktor, termasuk usia seorang anak ketika orangtua bercerai, kepribadian anak,
dan hubungan di dalam keluarga. Meskipun balita dan anak-anak yang masih sangat
kecil mungkin tidak akan mengalami efek perkembangan yang terlalu negatif,
anak-anak yang orang tuanya bercerai saat mereka sudah memasuki usia sekolah
atau bahkan remaja mungkin mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial,
emosional, dan pendidikan mereka.
1.
Masalah emosional
Setelah bercerai, anak-anak dari pra-sekolah hingga akhir masa
remaja dapat mengalami defisit dalam perkembangan emosional. Anak-anak dari
segala usia mungkin merasakan kesedihan dan depresi, yang merupakan keadaan
emosional jangka panjang (dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah
perceraian orangtua), jelas psikolog Lori Rappaport.
Selain itu, beberapa anak yang lebih tua mungkin menunjukkan
reaksi emosional yang sangat sedikit terhadap perpisahan orangtua mereka.
Rappaport menjelaskan bahwa hal ini bukanlah tahapan perkembangan yang baik
untuk anak. Beberapa anak yang menunjukkan sedikit respon emosional sebenarnya
memendam perasaan negatif mereka. Penekanan emosional ini justru dapat membuat
orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya
dengan cara yang tepat.
Lalu, sebuah studi oleh Larson&Larson 1990,
menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri pada anak lebih tinggi untuk anak broken
home dibandingkan dengan anak di keluarga normal. Tidak ada korelasi
yang ditemukan antara kematian orangtua dan bunuh diri dari seorang anak.
Namun, bunuh diri tampaknya dipicu oleh penolakan anak oleh orangtua.
1.
Masalah pendidikan
Perkembangan akademik yang melambat adalah masalah lain pada
anak broken home yang umum dipengaruhi oleh perceraian
orangtua. Stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis
anak Anda, tetapi perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga yang hancur
dapat berkontribusi pada hasil pendidikan yang buruk. Kemajuan akademik yang
buruk ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk ketidakstabilan di
lingkungan rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang
tidak konsisten.
Menurut sebuah studi oleh University of Western Australia,
perempuan yang tidak menikah, janda, dan yang telah bercerai akan lebih mungkin
untuk memiliki anak dengan cacat intelektual moderat dibandingkan dengan mereka
yang memiliki orangtua lengkap.
2.
Masalah sosial
Perceraian mempengaruhi hubungan sosial anak untuk beberapa hal.
Akibat perceraian, beberapa anak melepaskan kegelisahan
mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan),
yang keduanya merupakan hal negatif dan dapat mempengaruhi hubungan teman
sebaya mereka.
Anak-anak lain mungkin mengalami kecemasan, yang dapat membuat
mereka sulit untuk mencari interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam
kegiatan perkembangan yang bermanfaat seperti olahraga. Remaja broken
homemungkin mengembangkan sikap sinis dan ketidakpercayaan terhadap
hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka, jelas psikolog
Carl Pickhardt, dalam artikelnya yang berjudul “Parental Divorce and
Adolescents” yang diterbitkan pada Psychology Today.
3.
Masalah dinamika keluarga
Menuru hakikatnya, perceraian tidak hanya mengubah struktur
keluarga, namun juga dinamikanya. Bahkan jika Anda dan pasangan Anda memiliki
perceraian secara damai, hal itu hanya menciptakan dua rumah tangga baru yang
secara permanen mengubah interaksi dan peran keluarga. Berdasarkan pengaturan
kehidupan yang baru, anak-anak Anda mungkin perlu melakukan beberapa tugas
rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga baru.
Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung
akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya, karena jadwal kerja
orangtua mereka atau ketidakmampuan orangtua untuk selalu hadir di sisi mereka
seperti sebelum terjadinya perceraian.
Terlebih, anak broken
home di usia 18-22 tahun kemungkinan dua kali lebih besar untuk
memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka
akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku, sehingga
banyak dari mereka mendapatkan bantuan psikologis. Sebuah studi oleh Zill
menemukan bahwa efek perceraian akan tetap terlihat sekitar 12-22 tahun setelah
perpisahan. Penelitian oleh Child Psychology Divorce juga menemukan bahwa anak broken
home kurang patuh pada orangtua mereka yang bercerai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar