Jumat, 16 Desember 2016

masalah anak yang mengalami broken home



MASALAH ANAK BROKEN HOME
Anak broken home adalah anak yang hasil kegagalan rumah tangga atau seorang anak yang memiliki keluarga tidak harmonis. pada perkembangan anak tergantung pada berbagai faktor, termasuk usia seorang anak ketika orangtua bercerai, kepribadian anak, dan hubungan di dalam keluarga. Meskipun balita dan anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak akan mengalami efek perkembangan yang terlalu negatif, anak-anak yang orang tuanya bercerai saat mereka sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja mungkin mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial, emosional, dan pendidikan mereka.  
1.     Masalah emosional
Setelah bercerai, anak-anak dari pra-sekolah hingga akhir masa remaja dapat mengalami defisit dalam perkembangan emosional. Anak-anak dari segala usia mungkin merasakan kesedihan dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang (dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah perceraian orangtua), jelas psikolog Lori Rappaport.
Selain itu, beberapa anak yang lebih tua mungkin menunjukkan reaksi emosional yang sangat sedikit terhadap perpisahan orangtua mereka. Rappaport menjelaskan bahwa hal ini bukanlah tahapan perkembangan yang baik untuk anak. Beberapa anak yang menunjukkan sedikit respon emosional sebenarnya memendam perasaan negatif mereka. Penekanan emosional ini justru dapat membuat orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya dengan cara yang tepat.
Lalu, sebuah studi oleh Larson&Larson 1990, menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri pada anak lebih tinggi untuk anak broken home dibandingkan dengan anak di keluarga normal. Tidak ada korelasi yang ditemukan antara kematian orangtua dan bunuh diri dari seorang anak. Namun, bunuh diri tampaknya dipicu oleh penolakan anak oleh orangtua.
1.     Masalah pendidikan
Perkembangan akademik yang melambat adalah masalah lain pada anak broken home yang umum dipengaruhi oleh perceraian orangtua. Stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak Anda, tetapi perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga yang hancur dapat berkontribusi pada hasil pendidikan yang buruk. Kemajuan akademik yang buruk ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk ketidakstabilan di lingkungan rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten.
Menurut sebuah studi oleh University of Western Australia, perempuan yang tidak menikah, janda, dan yang telah bercerai akan lebih mungkin untuk memiliki anak dengan cacat intelektual moderat dibandingkan dengan mereka yang memiliki orangtua lengkap.
2.     Masalah sosial
Perceraian mempengaruhi hubungan sosial anak untuk beberapa hal. Akibat perceraian, beberapa anak melepaskan kegelisahan mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan), yang keduanya merupakan hal negatif dan dapat mempengaruhi hubungan teman sebaya mereka.
Anak-anak lain mungkin mengalami kecemasan, yang dapat membuat mereka sulit untuk mencari interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan perkembangan yang bermanfaat seperti olahraga. Remaja broken homemungkin mengembangkan sikap sinis dan ketidakpercayaan terhadap hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka, jelas psikolog Carl Pickhardt, dalam artikelnya yang berjudul “Parental Divorce and Adolescents” yang diterbitkan pada Psychology Today.
3.     Masalah dinamika keluarga
Menuru hakikatnya, perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga, namun juga dinamikanya. Bahkan jika Anda dan pasangan Anda memiliki perceraian secara damai, hal itu hanya menciptakan dua rumah tangga baru yang secara permanen mengubah interaksi dan peran keluarga. Berdasarkan pengaturan kehidupan yang baru, anak-anak Anda mungkin perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga baru.
Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya, karena jadwal kerja orangtua mereka atau ketidakmampuan orangtua untuk selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.
Terlebih, anak broken home di usia 18-22 tahun kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku, sehingga banyak dari mereka mendapatkan bantuan psikologis. Sebuah studi oleh Zill menemukan bahwa efek perceraian akan tetap terlihat sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan. Penelitian oleh Child Psychology Divorce juga menemukan bahwa anak broken home kurang patuh pada orangtua mereka yang bercerai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar