KONSEP PENDIKAN KARAKTER DI INDONESIA
Di Indonesia sebagai hasil sarasehan
nasional pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dilaksanakan dijakarta pada
tanggal 14 januari 2010 telah dicapai kesepakatan ansional pengembangan
pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dinyatakan sebagai berikut :
1. Pendidikan
budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari
pendidikan nasional ecara utuh.
2. Pendidikan
budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komperhensif sebagai
proses pembudayaan. Oleh akrena itu pendidikan dan kebudayaan secara
kelembagaan perlu diwadahi secara utuh
3. Pendidikan
budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab berasa anatr pemerintah,
amsyarakat, sekolah dan orang tua. Oleh karena itu pelaksanaan pendidikan
budaya dan karakter bangsa harus melibatkan ke empat unsure tersebut.
4. Dalam
upaya merevatalisasi pendidikan budaya dan karakter bangsa diperlukan gerakkan
nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan dilapangan.
5. Tersirat
dalam keinginan peserta sarasehan nasional tersebut agar pendidikan budaya dan
karakter dapat dikelola dengan lebih baik, diharapkan bidang kebudayaan kembali
menjadi tanggung jawab kementrian pendidikan nasioanl seperti dahulu ada
departemen pendidikan dan kebudayaan.
Namun sejauh ini bagaimana bentuk pendidikan karakter yang akan
diimplementasikan diindonesia masih berupa rancangan. Dalam kaitan ini,
departemen pendidikan nasional pada tahun 2009 telah mengidentifikasi 49
kualitas karakter yang dikembangkan dari character first dan dispakati sebagai
karakter minimal yamng akan dikembangkan dalam pem,belajaran di Indonesia.
Para ahli diindonesia
umumnya bersepakat abhwa pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak usia
anak-aank, karena usia ini terbukti sangat menetukan kemampuan anak dalam
mengembangkan potensinya. Dalam implementasinya pendidikan karakter umumnya
diintegrasikan dalam pembelajaran setiap mata pelajaran di sekolah. Materi
pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai pada setiap mata pelajaran
perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran niali-niali karakter tidak hanya pada
tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi dan pengelaman nayata
dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Secara amkro
pengembangan pendidikan karakter dibagi menjadi tiga tahap, yaitu perencanan,
pelaksanaan dan evaluasi hasil. Pada tahap perncanaan dikembangkan perangkat
karakter yang digali, dikristalisai, dasn dirumuskan dengan menggunakan
berbnagi sumber idiologi bangsa, perundang-undangan yang terkait, pertimbangan
teoritis, teori tentang otak, psikologis, nilai dan moral, pendidkan dan
sosio-kultural, serta pertimbangan empiris berupa pengalaman dan praktik
terbaikdari tokoh-tokoh kelompok cultural pesantren dan lain-lain.
Pada tahap pelksanaan
dikembangkan pengalaman belajar dan proses belajar yang bermuara pada
pembentuakan karakter dalam diri peserta didik. Proses ini terdiri dalam tiga
pilar pendidikan yakni di ekolah, keluarga dan masyarakat.
SUMBER : Fadilah,M.2014.
implementasi kurikulum 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar