Menanamkan Akidah Pada Anak Sejak Dini
Modal yang paling utama dalam mendidik anak adalah
menanamkan akidah pada diri anak sejak usia dini. Akidah yang ditanamkan sejak
anak masih belia akan mengakar kuat di hati anak, sehingga kelak akan menjadi
pondasi yang kokoh dalam membentuk pribadi anak tatkala beranjak dewasa.
Sebaliknya, mengabaikan pendidikan akidah terhadap anak sama halnya orang tua
mendidik anak tanpa disertai pondasi keimanan yang kuat, sehingga suatu saat
anak dapat merasakan ketidaksiapan menghadapi berbagai persoalan kehidupan,
terutama ketika ia telah dewasa.
Tugas
terbesar bagi seorang kepala keluarga adalah menanamkan akidah yang lurus
kepada setiap anggota keluarganya. Membimbing dan membina istri beserta
anak-anaknya, mengarahkan mereka ke jalan tauhid dengan memurnikan penghambaan
dan peribadahan kepada Allah Ta’ala. Tugas ini menuntut kepala keluarga
bersungguh-sungguh dalam menunaikannya karena pertanggungjawaban di sisi Allah
akan diminta kelak di hari perhitungan.
Mengingat pentingnya penanaman akidah, tak mengherankan
jika seorang yang shalih bernama Luqman Al Hakim ketika pertama kali menasihati
anaknya adalah perkara akidah. Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai anakku!
Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kedzaliman yang besar.”
Seruan
pertama yang disampaikan oleh para Rasul Allah juga mengenai pelurusan dan
pemurnian akidah, yaitu memerintahkan umatnya untuk menyembah Allah semata dan
menginggalkan segala yang dituhankan selain Allah. Setiap Rasul selalu
mengucapkan seruan pada awal dakwahnya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (Lihat QS. Al A’raf ayat 59,
65, 73 dan 85.)
Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih,
Syu’aib dan juga seluruh Rasul ‘Alaihimus sallam. Selama tiga belas tahun di
Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia kepada tauhid
karena hal tersebut merupakan pondasi utama bagi bangunan bernama Islam. Beliau
memulai dengan dakwah akidah, setelah itu beliau mengajak kepada perintah agama
yang lainnya. Demikian halnya pendidikan dalam keluarga, pelajaran pertama yang
perlu ditanamkan kepada anggota keluarga adalah akidah yang lurus dan benar.
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada setiap orang tua melalui
sabda beliau, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), dan orang
tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (Diriwayatkan
oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya.)
anak kita lahir ke dunia dalam keadaan fitrah (Islam).
Oleh karena itu, orang tua berkewajiban mendidik anaknya agar tetap dalam
keadaan fitrah (Islam). Pendidikan untuk menjadikan anak tetap dalam keadaan
fitrahnya harus dimulai dengan pendidikan akidah, dan pokok dari pendidikan
akidah adalah mengenalkan Allah Ta’ala. Selanjutnya, orang tua dituntut memberi
pemahaman agama (terutama akidah) yang lebih dalam lagi kepada anak.
Jangan pernah berpikir bahwa anak kita masih kecil, sehingga kita menunda pengajaran akidah kepadanya. Ingatlah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Abu Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliau mengajaknya untuk beriman dan Ali memenuhi ajakan beliau.
Jangan pernah berpikir bahwa anak kita masih kecil, sehingga kita menunda pengajaran akidah kepadanya. Ingatlah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Abu Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliau mengajaknya untuk beriman dan Ali memenuhi ajakan beliau.
Hal pertama dalam rangka mengajarkan dan menanamkan
akidah yang lurus kepada anak adalah dengan memperkenalkan dan mengajarkan
kalimat tauhid. Usahakan hal itu dilakukan sedini mungkin semenjak anak masih
dalam usia kanak-kanak. Mengajarkan kalimat tauhid kepada anak-anaa dalam usia
belia sama artinya dengan membuka sebuah pintu untuk memasuki pendidikan
akidah. Mengajarkan tauhid merupakan buah pendidikan yang ditanamkan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak yang sedah tumbuh agar menjadi
generasi muda muslim yang senantiasa istiqomah dalam memperjuangkan Dien Allah.
Abdurrazaq meriwayatkan bahwa para sahabat Radhiyallahu
‘anhum mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat “Laa ilaaha illa-Lah”
sebagai kalimat yang pertama mereka ucapkan. Kalimat tersebut juga menjadi
kalimat yang paling akrab bagi lisan anak-anak dari para sahabat, sehingga
tertanam keyakinan yang teguh di dalam hatinya untuk mentauhidkan Allah dan
tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun.
Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam Ahkam Al Maulud
menasihati, “Di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah
mendiktekan kepada mereka kalimat Laa ilaaha illa-Lah, Muhammad Rasulullah, dan
hendaknya sesuatu yang didengar pertama kali oleh telinga mereka adalah Laa
ilaaha illa-Lah dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah
bersemayang di singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataan
mereka, senantiasa bersama dengan mereka di manapun mereka berada.”
Demikian seharusnya orang tua muslim dalam mendidik
anaknya. Karakter anak yang hendak dibentuk seharusnya dilandasi dengan
penanaman akidah yang kokoh pada dirinya. Pendisiplinan akan lebih terarah
manakala sikap disiplin itu dibangun melalui bingkai akidah yang baik. Alangkah
sangat percuma manakala orang tua bersusah payah mendidik anaknya agar menjadi
pribadi yang berdisiplin tinggi, akan tetapi mereka lupa memberikan pondasi
yang kokoh bagi anak, yaitu akidah yang lurus.
Kedisiplinan seorang anak yang dibentuk dengan pondasi
akidah yang lurus dan kokoh akan menjadi pemicu kedisiplinan-kedisiplinan dalam
berbagai aspek kehidupan, khususnya kedisiplinan dalam menunaikan perintah
Allah, seperti melaksanakan shalat fardhu dengan berjamaah di masjid bagi
laki-laki, atau shalat tepat waktu di rumah bagi perempuan. Bermodal akidah
yang kokoh, insya Allah anak akan mampu istiqomah dengan berbagai ketentuan
syariat, sehingga juga akan menjadikannya mampu konsisten dalam memenuhi
berbagai ketentuan atau peraturan yang ada dalam rangka bermuamalah.
Tips Mengenalkan Allah kepada Anak Sejak Dini
Orang tua
tentu mengharapkan anaknya memiliki akidah yang lurus dan kokoh pada dirinya,
sehingga dapat menjadi pondasi yang utama bagi kehidupannya. Namun tidak
sedikit orang tua yang merasa kebingungan dalam menanamkan akidah kepada anak
sejak buah hatinya masih berusia belia. Berikut ini beberapa tips yang mungkin
dapat dicoba oleh orang tua untuk menanamkan akidah pada diri anak.
1.
Hendaknya mengajarkan kalimat tauhid (Laa ilaaha illa Allah, Muhammad
Rasulullah) kepada anak sedini mungkin, bahkan ketika mereka masih berusia
balita. Ajarkan pula makna kalimat tauhid supaya ia bisa (sedikit) mengerti,
tidak sekedar menirukan saja. Biasakan anak mendengar kalimat tauhid, kemudian
ajaklah ia untuk menirukannya. Bila anak telah mampu mengucapkan kalimat
tauhid, anjurkanlah kepadanya untuk mengucapkan berulang-ulang di setiap waktu
dan kesempatan. Dengan demikian, di dalam hatinya akan tersimpan file khusus
bernama “kalimat tauhid” yang akan senantiasa terpatri hingga anak tumbuh
menjadi dewasa.
2.
Menerangkan kepada si anak bahwa Allah itu adalah Rabb yang telah menciptakan
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Perlu diperhatikan bahwa
dalam rangka memberikan penjelasan kepada anak harus dengan menggunakan bahasa
anak dan menyesuaikan dengan daya nalar anak, sehingga anak tidak akan merasa
bingung. Kalaupun anak masih terlalu kecil untuk menerima penjelasan akidah,
tidak apa-apa, karena setidaknya penjelasan itu bisa terekam oleh anak,
sehingga suatu saat kita bisa menerangkan kembali dan anak akan lebih mudah
menerimanya.
3. Membuat
perumpamaan mengenai keberadaan Allah. Contohnya, orang tua dapat membuat
perumpamaan bahwa ada makanan karena ada yang membuatnya, maka ada ayah, ibu
dan ananda, tentu juga karena ada yang membuatnya. Siapa yang membuat kita?
Yang membuat kita adalah Allah.
4.
Mengajak anak berpikir sederhana mengenai Allah. Ajaklah anak Anda untuk keluar
rumah sejenak. Lihatlah langit dan ajaklah anak untuk turut serta menatap
langit. Kemudian tanyakanlah kepadanya, “Mengapa langit yang ada di atas tidak
jatuh ke bumi?” Mendengar pertanyaan itu, anak akan terangsang untuk berpikir
mencari jawabannya. Ketika ia tidak mendapatkan sebuah jawaban, maka ia akan
mengembalikan pertanyaan itu kepada Anda dengan maksud agar Anda yang
menjawabnya. Saat itulah merupakan kesempatan bagi Anda untuk menjelaskan,
bahwa langit tidak jatuh karena ada yang menjaganya, yaitu Allah.
5. Ajarkan
kisah-kisah Islami kepada anak. Kisah yang sangat bagus untuk memperkenalkan
Allah kepada anak dan sangat layak untuk diajarkan kepada anak adalah kisah
Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam mencari Rabb-nya. Menerangkan melalui cerita akan
membuat anak lebih antusias mendengarkan dan lebih mudah dipahami oleh anak.
6.
Sering-seringlah orang tua menyebut nama Allah dalam setiap kesempatan.
Misalnya, ketika seorang ibu hendak mengerjakan shalat, maka ia bisa mengatakan
kepada anaknya, “Nak, ibu shalat dulu, ya. Orang yang rajin shalat akan
disayang oleh Allah”. Terkesan sederhana, tetapi telah menanamkan pada memori
anak sebuah nama yang terekam, “Allah”.
7. Ajarkan
kalimat thayyibah beserta artinya, terutama pada momen tertentu. Misalnya,
ketika anak mau makan, biasakan untuk mengajak anak membaca,
“Bismillahirrahmaanirrahiim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.” Selesai makan, ucapkanlah, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.”
Atau ketika melihat pemandangan yang indah, ajak anak untuk segera mengucapkan,
“Subhanallah, Maha Suci Allah.” Dengan begitu akan membuat asma Allah terpatri
dalam diri anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar