Model dan layanan pendidikan bagi anak Cerdas Istimewa
Berbakat Istimewa
Terdapat
3 model layanan kepada siswa CIBI:
1. Kelas Biasa (Inklusi) b
Kelas
yang memberikan layanan kepada siswa CIBI yang proses pembelajaran bergabung
dengan siswa reguler. Dalam kelas inklusi ini siswa CIBI mengikuti seluruh mata
pelajaran bersama dengan siswa lainnya di suatu sekolah
2.
Kelas Khusus
Kelas yang dibuat untuk menampung siswa
CIBI.Perbedaan dengan kelas inklusi adalah pada siswa artinya. Artinya pada
kelas khusus ini, seluruh siswanya adalah siswa yang memenuhi kriteria CIBI
3. Satuan
Pendidikan/Sekolah Khusus
Sekolah khusus adalah satuan pendidikan
yang khusus dibuat untuk menampung anak-anak CIBI.Artinya sekolah ini hanya
menerima siswa yang berkualifikasi CIBI saja.
Beberapa layanan pendidikan yang
dapat diberikan pada anak berbakat adalah:
a)
Menyelenggarakan program akselerasi khusus untuk
anak-anak berbakat.
Program
akselerasi ini yaitu dengan cara "lompat kelas", artinya, anak dari
Taman Kanak-Kanak misalnya tidak harus melalui kelas I Sekolah Dasar, tetapi
langsung ke kelas II, atau bahkan ke kelas III Sekolah Dasar. Demikian juga
dari kelas III Sekolah Dasar bisa saja langsung ke kelas V jika memang anaknya
sudah matang untuk menempuhnya.Jadi program akselerasi dapat dilakukan untuk
seluruh mata pelajaran (akselerasi kelas atau akselerasi untuk beberapa mata
pelajaran saja).Dalam program akselerasi untuk seluruh mata pelajaran berarti
anak tidak perlu menempuh kelas secara berturutan, tetapi dapat melompati kelas
tertentu, misalnya anak kelas I Sekolah Dasar langsung naik ke kelas III. Dapat
juga program akselerasi hanya diberlakukan untuk mata pelajaran yang luar biasa
saja. Misalnya saja anak kelas I Sekolah Dasar yang berbakat istimewa dalam
bidang matematika, maka ia diperkenankan menempuh pelajaran matematika di kelas
III, tetapi pelajaran lain tetap di kelas I. Demikian juga kalau ada anak kelas
II Sekolah Dasar yang sangat maju dalam bidang bahasa Inggris, ia boleh
mengikuti pelajaran bahasa Inggris di kelas V atau VI.
b)
Home-schooling (pendidikan non formal di luar
sekolah).
Cara
lain yang dapa ditempuh selain model akselerasi adalah memberikan pendidikan
tambahan di rumah atau di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling.
Dalam home-schooling orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat
program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada
suatu ketika jika anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja
dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat
perkembangannya.
c)
Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan
pendekatan individual.
Dalam
model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga
perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya
maksimum 20 anak.Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya
masing-masing.Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih
banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya; sebaliknya anak yang agak
lamban diberi materi dan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih
oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi sangat sibuk dengan
memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda tingkat
perkembangan dan ritme belajarnya.
d)
Membangun kelas khusus untuk anak berbakat.
Dalam
hal ini anak-anak yang memiliki bakat/kemampuan yang kurang lebih sama
dikumpulkan dan diberi pendidikan khusus yang berbeda dari kelas-kelas tradisional
bagi anak-anak seusianya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di
mana pendekatan individual lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal.Kelas
khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri sesuai
dengan kebutuhan anak-anak berbakat.Sistem evaluasi dan pembelajarannyapun
harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Kemampuan dasar atau bakat yang luar
biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian perangsangan
(stimulasi) yang sistematis, terencana dan terjadwal agar apa yang dimiliki,
menjadi actual dan berfungsi sebaik-baiknya. Membiarkan seorang anak berkembang
sesuai dengan azas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi tidak
sempurna dan bakat-bakat yang luar biasa yang sebenarnya mempunyai potensi
untuk bisa diperkembangkan menjadi tidak berfungsi.
Tanpa pendidikan khusus yang
meliputi pengasuhan yang baik, pembinaan yang terencana dan perangsangan yang
tepat, mustahil seorang anak akan bisa begitu saja mengembangkan bakat-bakatnya
yang baik dan mencapai prestasi yang luar biasa. Tanpa pendidikan khusus,
bakat-bakat yang dimiliki akan terpendam (latent) atau hanya muncul begitu saja
dan tidak berfungsi optimal.
Faktor yang
perlu diperhatikan agar mencapai hasil yang diharapkan yakni:
1.
Faktor yang ada pada anak itu sendiri, yaitu perlunya
mengenal anak. Mengenal dalam arti mengetahui semua ciri khusus yang ada pada
anak secara obyektif.
2.
Faktor kurikulum yang meliputi:
Isi dan cara
pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak (child centered). Kurikulum
pada pendidikan khusus tidak terlepas dari kurikulum dasar yang diberikan untuk
anak lain. Kurikulum khusus diarahkan agar perangsangan-perangsangan yang
diberikan mempunyai pengaruh untuk menambah atau memperkaya program dan tidak
semata-mata untuk mempercepat berfungsinya sesuatu bakat luar biasa yang
dimiliki. Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak yang
berorientasi inovatif dan tidak reproduktif serta berorientasi untuk mencapai
sesuatu yang tidak hanya sekedar memunculkan apa yang dimiliki tanpa dilatih
menjadi kreatif. Hal lain yang penting adalah tersedianya faktor lingkungan
yang berfungsi menunjang. Tujuan institusional dan instruksional serta isi
kurikulum yang disusun secara khusus bagi anak berbakat membutuhkan sarana dan
prasarana yang memadai.
Guru yang melaksanakan tugas-tugas
kurikuler yang telah digariskan mempunyai peranan yang penting agar apa yang
akan diajarkan bisa merangsang perkembangan seluruh potensi yang dimiliki serta
berhasil melatih setiap aspek yang berkembang memperlihatkan fungsi-fungsi
kreatif dan produktif.Mengenai pelaksanaan pendidikan khusus untuk anak
berbakat pada umumnya dikelompokkan dalam tiga bentuk:
1.
“Pemerkayaan” yaitu pembinaan bakat dengan penyediaan kesempatan
dan fasilitas belajar tambahan yang
bersifat pendalaman kepada anak berbakat setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diprogramkan
untuk anak pada umumnya (independent
study, projects, dan sebagainya).
2.
“Percepatan” yaitu cara penanganan anak berbakat
dengan memperbolehkan anak naik kelas
secara melompat, atau menyelesaikan program reguler di dalam jangka waktu yang lebih singkat. Variasi
bentuk-bentuk percepatan adalah antara lain early admission, advanced placement, advanced courses.
3.
“Pengelompokan Khusus” dilakukan secara penuh atau
sebagian, yaitu bila sejumlah anak
berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan
potensinya.
Selain bentuk-bentuk pembinaan tersebut
di atas, ada pula cara-cara pembinaan yang lebih bersifat informal, misalnya
dengan pemberian kesempatan meninjau lembaga-lembaga penelitian-pengembangan
yang relevan, atau pengadaan perlombaan-perlombaan.
sanagat bagus
BalasHapus